SORONG-SELATAN|WARTAPAPER.COM- Senator TV – Peresmian dan pentabisan Gedung Gereja GKI Agape Waigo, Klasis Teminabuan, di Kampung Waigo, Distrik Wayer, Kabupaten Sorong Selatan, Sabtu (26/9/2026), menjadi momentum penting bagi Jemaat GKI Agape Waigo dalam memperkuat kehidupan persekutuan, pelayanan, dan pembinaan iman sekaligus memperluas kontribusi sosial gereja di tengah masyarakat.
Kegiatan tersebut dihadiri Wakapolda Papua Barat Daya Kombes Pol. Fernando Sanches Napitupulu, S.I.K, bersama Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu, S.Sos, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), jajaran TNI-Polri, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta warga jemaat GKI Agape Waigo.
Hadir pula Danrem 181/Praja Vira Tama Brigjen TNI Slamet Riadi, S.I.P, Kepala BIN Daerah Provinsi Papua Barat Daya, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Papua Barat Daya, Kepala Biro Umum Provinsi Papua Barat Daya, Bupati Sorong Selatan, Wakil Bupati Maybrat, Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Barat Daya, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sorong Selatan, Dandim 1807/Sorong Selatan, serta Kapolres Sorong Selatan AKBP Praja Gandha Wiratama, S.H, S.I.K, M.H, beserta para Kapolsek jajaran.
Dari unsur keagamaan, kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Sinode se-Tanah Papua Hendrikus Mofu bersama sejumlah pimpinan dan tokoh gerejawi. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut mencerminkan adanya keterlibatan lintas sektor dalam mendukung keberlangsungan kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat di Kabupaten Sorong Selatan.
Peresmian dan pentabisan gedung gereja pada hakikatnya tidak hanya menandai selesainya pembangunan fasilitas peribadatan. Momentum tersebut memiliki dimensi yang lebih luas karena berkaitan dengan keberlanjutan fungsi gereja sebagai institusi keagamaan dan sosial dalam pembinaan spiritual, pendidikan keagamaan, penguatan keluarga, pembentukan karakter, serta pelayanan kepada masyarakat.
Dalam perspektif pembangunan sosial, keberadaan rumah ibadah memiliki posisi strategis sebagai ruang pembentukan nilai dan penguatan modal sosial. Melalui aktivitas keagamaan dan pelayanan kemasyarakatan, gereja dapat berkontribusi dalam membangun solidaritas, kepedulian, toleransi, serta tanggung jawab sosial di tengah masyarakat.
Kehadiran Wakapolda Papua Barat Daya dalam kegiatan tersebut juga menunjukkan pentingnya pola kemitraan antara kepolisian dengan institusi keagamaan dan komponen masyarakat lainnya. Dalam konteks pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, komunikasi yang konstruktif antara aparat keamanan, pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat merupakan bagian penting dalam membangun lingkungan sosial yang aman, tertib, dan kondusif.
Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu dalam sambutannya menempatkan peresmian dan pentabisan Gedung GKI Agape Waigo tidak semata – mata sebagai seremoni keagamaan, tetapi sebagai momentum yang memiliki dimensi spiritual dan sosial.
Menurutnya, keberadaan rumah ibadah tidak berhenti pada aspek fisik bangunan, melainkan harus diikuti dengan penguatan kehidupan iman, pelayanan kepada jemaat, serta kontribusi terhadap kehidupan sosial masyarakat.
Karena itu, keberadaan Gedung GKI Agape Waigo diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai pusat peribadatan sekaligus sebagai ruang pembinaan warga jemaat dan masyarakat di lingkungan sekitarnya.
Gubernur juga menekankan pentingnya menjadikan nilai kasih, perdamaian, toleransi, persaudaraan, dan persatuan sebagai fondasi dalam membangun kehidupan bersama. Nilai – nilai tersebut memiliki relevansi dalam memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat Papua Barat Daya yang memiliki keragaman latar belakang sosial, budaya, dan keagamaan.
“Melalui momentum ini, diharapkan gereja dapat terus menjalankan perannya sebagai pusat pembinaan spiritual serta memperkuat nilai – nilai kasih, kedamaian, toleransi, dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat,” ujar Elisa Kambu.
Sementara itu, Ketua Sinode se-Tanah Papua Hendrikus Mofu dalam sambutannya turut memberikan pesan kepada jemaat GKI Agape Waigo dan masyarakat setempat mengenai pentingnya menjadikan keberadaan gedung gereja sebagai sarana untuk memperkuat pelayanan, persekutuan, dan kehidupan sosial masyarakat.
Pesan tersebut menempatkan pembangunan fisik gereja sebagai bagian dari proses yang lebih substantif, yakni penguatan kualitas kehidupan jemaat serta peningkatan kontribusi lembaga keagamaan dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
Dalam kerangka pembangunan daerah, kehidupan keagamaan memiliki keterkaitan erat dengan pembangunan kualitas sumber daya manusia dan ketahanan sosial. Lembaga keagamaan dapat mengambil peran melalui pendidikan karakter, pembinaan generasi muda, penguatan institusi keluarga, serta penyelenggaraan berbagai kegiatan pelayanan sosial.
Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, lembaga keagamaan, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan warga menjadi penting dalam membangun ekosistem sosial yang memungkinkan masyarakat menjalankan aktivitas keagamaan dan kemasyarakatan secara aman, tertib, serta saling menghormati.
Kehadiran unsur Forkopimda dan berbagai pemangku kepentingan dalam kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya komunikasi lintas sektor dalam menjaga stabilitas sosial. Sinergi antar lembaga dalam konteks ini tidak semata – mata berorientasi pada aspek keamanan, tetapi juga mencakup pembangunan kepercayaan, penguatan komunikasi sosial, dan pemeliharaan hubungan harmonis di tengah masyarakat.
Bagi Jemaat GKI Agape Waigo, peresmian dan pentabisan gedung gereja merupakan awal dari tahapan pelayanan yang baru. Ketersediaan fasilitas peribadatan yang lebih representatif diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas pelayanan gerejawi sekaligus memperluas kontribusi jemaat dalam kehidupan sosial masyarakat.
Gedung tersebut juga diharapkan dapat menjadi ruang pembinaan generasi muda, penguatan kehidupan keluarga, pendidikan keagamaan, pelayanan kemasyarakatan, serta pengembangan berbagai kegiatan sosial yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Dalam perspektif pembangunan masyarakat, institusi keagamaan yang aktif dan responsif terhadap kebutuhan sosial dapat menjadi salah satu unsur penting dalam memperkuat modal sosial. Kepercayaan, solidaritas, kepedulian, dan tanggung jawab kolektif merupakan komponen yang diperlukan untuk membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan berkelanjutan.
Sementara itu, keterlibatan jajaran Polda Papua Barat Daya dalam kegiatan tersebut menunjukkan ruang komunikasi sosial antara Polri dan masyarakat. Pendekatan kemitraan semacam ini berjalan beriringan dengan tugas institusional kepolisian dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat serta membangun hubungan yang konstruktif dengan berbagai elemen sosial.
Dalam konteks masyarakat Papua Barat Daya yang memiliki keragaman sosial dan budaya, komunikasi antara aparat keamanan, pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat menjadi salah satu instrumen penting untuk membangun kepercayaan publik serta mendorong penyelesaian berbagai persoalan sosial melalui pendekatan dialogis dan konstruktif.
Dengan demikian, peresmian dan pentabisan Gedung GKI Agape Waigo tidak hanya dapat dimaknai sebagai seremoni penyelesaian pembangunan fisik, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkuat fungsi institusi keagamaan dalam kehidupan masyarakat.
Lebih jauh, momentum tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan masyarakat tidak hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur fisik. Pembangunan yang berkelanjutan juga membutuhkan penguatan nilai, institusi sosial, kualitas sumber daya manusia, solidaritas masyarakat, serta kemitraan antar pemangku kepentingan.
Dalam kerangka tersebut, gereja, pemerintah daerah, TNI – Polri, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat memiliki ruang kontribusi masing – masing untuk membangun komunikasi dan kerja sama yang konstruktif.


















