banner 728x250

Tangis Keluarga Korban Pencurian: Disuruh dan Didampingi Polisi Tangkap Pelaku Bawa Pisau, Kini Justru Jadi Tersangka, Minta Perhatian Ketua Umum Bhayangkari Ibu Ny. Juliati Sigit Prabowo

banner 120x600
banner 468x60

 

MEDAN|WARTAPAPER.COM- Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi sebuah keluarga selain ketika merasa menjadi korban, berusaha mencari keadilan, namun justru harus berhadapan dengan proses hukum.

banner 325x300

Dengan hati berat, sebuah keluarga asal Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, kembali menyampaikan harapan dan permohonan agar perkara yang mereka alami mendapat perhatian dan ditangani secara objektif.

Keluarga tersebut mengaku menjadi korban pencurian di toko ponsel yang selama ini menjadi usaha keluarga mereka.

Namun, persoalan yang awalnya bermula dari dugaan pencurian itu kemudian berkembang menjadi perkara hukum yang membuat keluarga tersebut merasa berada dalam posisi yang sangat sulit.

Mereka mengaku, dalam upaya mencari dan mengamankan pelaku pencurian, mereka justru diminta dan didampingi pihak kepolisian untuk menangkap orang pelaku pencurian yang membawa pisau tajam.

Tak pernah terlintas dalam pikiran mereka bahwa setelah berusaha menyelamatkan harta keluarga, sebagian anggota keluarga justru harus menghadapi tuduhan hingga proses hukum sebagai tersangka.

“Kami Hanya Ingin Keadilan”

Dengan suara penuh harap, keluarga tersebut menyampaikan permohonan kepada Ketua Umum Bhayangkari, Ny. Juliati Sigit Prabowo.

Mereka berharap suara keluarga yang merasa sebagai korban dapat didengar dan perkara tersebut dapat ditinjau kembali secara objektif.

Mereka tidak meminta perlakuan khusus.
Mereka hanya berharap seluruh fakta, bukti, keterangan para pihak serta rangkaian peristiwa sejak awal diperiksa secara menyeluruh.

“Kami tidak meminta perlakuan istimewa. Kami hanya memohon agar suara kami sebagai keluarga yang merasa menjadi korban dapat didengar,” demikian inti permohonan keluarga tersebut.

Bagi mereka, perkara ini bukan sekadar persoalan hukum.

Ada rasa takut, tekanan dan beban yang harus ditanggung keluarga selama proses tersebut berlangsung.

Mereka mengaku hanya berusaha mempertahankan harta milik keluarga dan membantu mengungkap pencurian yang mereka alami.

Namun yang terjadi kemudian, menurut pengakuan mereka, justru membuat posisi keluarga berbalik.

Dari korban, kemudian harus menghadapi status sebagai tersangka.

Harta Hilang, Keluarga Justru Berhadapan dengan Hukum

Peristiwa itu disebut bermula dari pencurian di toko ponsel milik keluarga di wilayah Pancur Batu.

Keluarga kemudian membuat laporan dan berupaya mencari keberadaan orang yang mereka duga sebagai pelaku.

Dalam proses pencarian tersebut, keluarga mengaku berkoordinasi dengan pihak kepolisian hingga akhirnya mengetahui keberadaan terduga pelaku.

Keluarga mengklaim mereka kemudian datang bersama anggota kepolisian untuk mengamankan pelaku.

Namun dalam proses tersebut, mereka justru mengaku menghadapi persoalan hukum yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Kondisi itu membuat keluarga mempertanyakan satu hal:

Mengapa orang yang merasa menjadi korban pencurian dan mengaku menangkap pelaku dengan pendampingan polisi justru harus berhadapan dengan status tersangka?
Pertanyaan tersebut hingga kini menjadi beban pikiran keluarga.

Memohon Proses Hukum yang Adil dan Transparan

Keluarga berharap aparat penegak hukum dapat melihat perkara tersebut secara utuh, bukan hanya dari satu sisi.

Mereka meminta seluruh bukti, keterangan saksi, laporan polisi serta rangkaian kejadian sejak awal diperiksa secara profesional.

Jika berdasarkan fakta dan hukum mereka memang tidak terbukti melakukan kesalahan, keluarga berharap tidak terus dibebani dengan tuduhan yang menurut mereka tidak sesuai dengan kejadian yang mereka alami.

“Kami hanya ingin keadilan. Kami hanya ingin kebenaran terungkap dan keluarga kami dapat kembali menjalani kehidupan tanpa terus dihantui rasa takut dan beban perkara ini,” ungkap keluarga tersebut.

Harapan itu kini mereka titipkan kepada pihak-pihak yang memiliki kewenangan untuk melihat dan menindaklanjuti perkara tersebut.

Mereka juga berharap aspirasi tersebut dapat disampaikan kepada pihak berwenang agar perkara yang mereka alami diperiksa secara objektif, transparan, profesional dan sesuai dengan ketentuan hukum.

Hanya Doa, Bukti dan Harapan

Di tengah beratnya perkara yang mereka hadapi, keluarga mengaku tidak memiliki kekuatan besar untuk memperjuangkan persoalan tersebut.

Mereka hanya memiliki bukti, keberanian untuk menyampaikan apa yang mereka alami dan keyakinan bahwa kebenaran pada akhirnya harus mendapatkan tempat.

“Kami tidak memiliki kekuatan apa-apa selain doa, bukti, dan harapan bahwa masih ada jalan bagi kami untuk mendapatkan keadilan,” demikian harapan keluarga.

Kini, keluarga tersebut hanya ingin satu hal: kebenaran terungkap dan keadilan ditegakkan.

Bukan keistimewaan yang mereka minta. Bukan perlakuan khusus.
Melainkan kesempatan agar perkara yang mereka alami dapat dilihat secara utuh dan diproses secara adil.

Sebab bagi keluarga ini, luka bukan hanya karena kehilangan harta.

Luka yang lebih dalam adalah ketika mereka merasa sebagai korban, tetapi justru harus menjalani ketakutan menghadapi proses hukum.

#JuliatiSigitPrabowo #KetuaUmumBhayangkari #Bhayangkari #BhayangkariIndonesia #MohonKeadilan #SuaraKeadilan #KeadilanUntukKeluarga #CariKeadilan #KebenaranHarusTerungkap #KorbanPencurian #Tersangka #DPO #PolrestabesMedan #PoldaSumut #PolsekPancurBatu #PancurBatu #DeliSerdang #SumateraUtara #Medan #LaporPak #Keadilan #PenegakanHukum #HukumHarusAdil #BeritaMedan #BeritaSumut #BeritaTerkini #BeritaViral

(John Panjaitan/WP)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *