PAPUA|WARTAPAPER.COM-Di atas kanopi hutan dataran rendah Papua, sesosok burung berparuh bengkok besar melintas di pagi hari. Sayapnya mengepak kuat, menembus kabut tipis. Tak lama kemudian terdengar suara lantang, teriakan bernada tinggi yang memekakkan telinga,(26/06/2026)
Itulah nuri bayan Eclectus roratus, salah satu burung paling mencolok di kawasan Wallacea.
Yang membuat nuri bayan istimewa adalah perbedaan warna jantan dan betina yang ekstrem. Jantannya hijau terang dengan sapuan merah di bawah sayap, menyatu dengan daun.
Sementara betinanya justru merah menyala dengan perut dan sayap bawah ungu kebiruan. Kontras itu membuat banyak orang mengira mereka adalah dua jenis burung berbeda.
Perbedaan warna ini punya fungsi. Betina merah lebih mudah bersembunyi di liang pohon saat mengerami telur, sementara jantan hijau lebih samar saat mencari makan di tajuk. Tubuh mereka kekar, berkepala besar, berekor agak pendek, dengan paruh kokoh untuk memecah buah dan biji.
Nuri bayan biasanya terbang berpasangan atau dalam kelompok kecil. Mereka aktif di pagi hari, berpindah dari satu pohon buah ke pohon lain.
Panggilannya yang keras berfungsi untuk menjaga jarak dengan kelompok lain di hutan yang lebat.
Habitat aslinya membentang dari dataran rendah Papua hingga hutan di ujung utara Cape York, Australia.
Namun seiring hilangnya hutan dan maraknya perdagangan burung, populasi liar makin tertekan.
Kini, burung lepasan atau hasil introduksi kerap dijumpai di luar wilayah sebaran alaminya, dari kota-kota pesisir hingga pulau-pulau kecil.
Kehadirannya mengingatkan bahwa hutan Papua bukan hanya rumah pohon, tapi juga rumah bagi spesies yang evolusinya menulis cerita warna paling berani di antara burung paruh bengkok.(Red/WP)



















