banner 728x250

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono,Ingatkan agar MBG jangan memakan lebih dari 4 Jam dan di Sarankan Jangan di bawa pulang

banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA|WARTAPAPER.COM- Makan Bergizi Gratis (MBG) sebaiknya tidak dibawa pulang oleh siswa dan dikonsumsi lebih dari empat jam. Demikian diingatkan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono.

Demikian disampaikan Sudaryono belajar dari kasus keracunan MBG yang baru saja terjadi di Papua dan Semarang, Jawa Tengah, sehingga ia menekankan kembali target nol toleransi terhadap kejadian fatal tersebut.

banner 325x300

“Semua pengiriman harus dipastikan sejak makanan matang sampai dikonsumsi sesuai standar, tidak boleh lebih dari empat jam, harus ada batas waktu konsumsi atau best before, kami ingin memperkuat edukasi,” katanya di Jakarta, Kamis (6/8/26).

Dikatakannya, BGN menetapkan nol toleransi terhadap kasus keracunan MBG untuk memastikan standar operasional dan prosedur dijalankan. Selain itu, para penanggung jawab di sekolah dan guru diminta mengedukasi agar siswa tidak membawa pulang MBG dan segera dikonsumsi di sekolah.

Bahkan dirinya juga meminta agar MBG bisa membuat guru ikut makan bersama siswa, bukan hanya untuk memberi contoh antre, cuci tangan, menyusun ompreng, berdoa, dan bersyukur, melainkan juga memberikan edukasi tentang gizi.

“Tak hanya itu, guru juga mengingatkan agar makanan tidak dibawa pulang, karena MBG tidak menggunakan bahan pengawet, kalau tidak segera dimakan, apalagi di daerah panas, makanan akan lebih cepat rusak karena pertumbuhan bakteri, kami sudah berbicara dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah agar ini menjadi materi edukasi penting di semua sekolah,” tegasnya.

Dikatakan Sudaryono, kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) di seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi kunci keamanan pangan Program MBG.

Menurutnya, laporan dugaan keracunan selalu ditindaklanjuti melalui penghentian sementara operasional (suspend) SPPG terkait, pengujian sampel makanan, dan investigasi guna mengetahui penyebabnya.

“Ketika ada kejadian itu satu dapurnya ditangguhkan, kemudian makanannya dicek di laboratorium oleh Dinas Kesehatan di bawah pengawasan dari Kementerian Kesehatan. Kami akan cari tahu, kemudian kepala SPPG-nya kami copot, kami investigasi keracunannya karena apa,” jelasnya.

(John Panjaitan/WP)

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *