BANDUNG|WARTAPAPER.COM+Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) resmi memulai rangkaian Hari Ritel Nasional (HRN) 2026 melalui kegiatan Kick-Off Hari Ritel Nasional 2026 di Amanda Supermarket, Cihampelas Walk (Ciwalk), Bandung, Senin (2/11/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penguatan kolaborasi antara pemerintah, industri ritel, dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memperluas akses pasar produk lokal, sekaligus meningkatkan daya saingnya hingga ke pasar global.
Penyelenggaraan HRN 2026 di Bandung menjadi momentum istimewa karena untuk pertama kalinya rangkaian utama Hari Ritel Nasional diselenggarakan di luar Jakarta dan Banten. Pemilihan Jawa Barat juga mencerminkan potensi strategis wilayah ini sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi, industri, perdagangan, dan UMKM di Indonesia.
Ketua Umum Aprindo, Solihin, mengatakan bahwa HRN bukan sekadar perayaan industri ritel, melainkan momentum untuk memperkuat kontribusi sektor ritel terhadap perekonomian nasional.
“Industri ritel memiliki peran strategis dalam menghubungkan produsen, UMKM, petani, pemasok, hingga konsumen. Karena itu, kemajuan ritel harus memberikan dampak nyata bagi seluruh ekosistem, termasuk membuka kesempatan lebih luas bagi produk-produk lokal untuk berkembang dan menjangkau pasar yang lebih besar,” ujar Solihin.
Saat ini, Aprindo merepresentasikan lebih dari 200 perusahaan ritel dengan jaringan 34 Dewan Pengurus Daerah (DPD) dan lebih dari 163 Dewan Pengurus Cabang (DPC) di seluruh Indonesia. Kekuatan jaringan tersebut menjadi modal penting dalam memperluas distribusi dan pemasaran produk dalam negeri melalui jaringan ritel modern.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso menegaskan pentingnya kolaborasi pemerintah dan industri ritel untuk memperluas jangkauan produk lokal. Melalui program Lokal untuk Global, Kemendag mendorong produk-produk Indonesia agar tidak hanya berkembang di pasar domestik, tetapi juga mampu menembus pasar internasional.
Program tersebut juga dikolaborasikan dengan sektor ritel dan terus digaungkan melalui Trade Expo Indonesia. Menurut Budi, perkembangan Trade Expo Indonesia menunjukkan peningkatan pertumbuhan dan jumlah buyer yang semakin besar.
“Kami memiliki program Lokal untuk Global yang dikolaborasikan dengan sektor ritel. Produk-produk UMKM yang sudah berhasil masuk ke jaringan ritel nasional perlu kita dorong lebih jauh agar bisa menembus pasar ekspor. Kami juga terbuka untuk berkolaborasi dan siap melakukan MoU dengan APRINDO dalam mendorong ekspansi produk UMKM,” ujar Budi Santoso.
Dalam kegiatan tersebut, Menteri Perdagangan juga melakukan dialog interaktif secara daring dengan pelaku ritel dan UMKM dari empat wilayah, yakni Bangka Belitung, Papua, Manado, dan Medan. Melalui dialog tersebut, Mendag mendengarkan aspirasi sekaligus pengalaman para pelaku usaha dalam membangun kemitraan dengan ritel modern.
Para pelaku UMKM menyampaikan apresiasi karena mendapatkan kesempatan untuk masuk dan memasarkan produknya melalui jaringan ritel modern. Mereka juga berharap proses kemitraan dan akses ke pasar ritel dapat semakin dipermudah sehingga lebih banyak produk lokal memperoleh kesempatan berkembang.
Baca Juga
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyambut baik penyelenggaraan HRN 2026 di Kota Bandung. Menurutnya, industri ritel memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, menciptakan lapangan pekerjaan, menarik investasi, dan menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Farhan menegaskan bahwa Bandung membutuhkan pertumbuhan sektor ritel yang mampu menciptakan lebih banyak kesempatan kerja. Saat ini, ia menyebut terdapat sekitar 90 ribu pengangguran terbuka di Kota Bandung. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang perlu dijawab melalui pertumbuhan sektor-sektor ekonomi produktif, termasuk industri perdagangan dan ritel.
Ia juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Bandung yang masih berada di bawah 6 persen, sementara pada 2019 pernah tumbuh lebih dari 7%. “Kota Bandung membutuhkan sektor ritel yang terus tumbuh. Kita ingin wisatawan yang datang ke Bandung tidak hanya berkunjung, tetapi juga berbelanja. Dengan semakin berkembangnya aktivitas perdagangan, kita berharap investasi semakin banyak masuk dan sektor ritel dapat menjadi salah satu motor penggerak ekonomi kota,” ujar Farhan.
Menurutnya, penguatan industri ritel juga berkaitan dengan upaya pemerintah daerah dalam memperluas kesempatan kerja, mengurangi pengangguran, serta mendukung pengentasan kemiskinan. Karena itu, penyelenggaraan HRN di Bandung diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pelaku usaha, UMKM, tenaga kerja, dan perekonomian daerah.
Perspektif menarik juga disampaikan Presiden Direktur Amanda Retailindo Group, Joko Ervianto. Berangkat dari pengalaman membangun usaha yang juga dimulai dari skala UMKM, Joko mendorong para pelaku usaha lokal untuk memiliki visi besar dan tidak berhenti pada skala usaha kecil.
Ia mengajak UMKM untuk berani membangun cita-cita menjadi perusahaan besar, bahkan memiliki jangkauan bisnis multinasional. Menurutnya, status UMKM seharusnya menjadi tahap awal perjalanan bisnis, bukan batas akhir pertumbuhan usaha.
“Jangan terlalu lama menjadi UMKM. Kita harus punya mimpi besar, berani bertumbuh, dan memiliki cita-cita menjadi pengusaha yang lebih besar. Jangan membatasi diri hanya karena saat ini masih memulai dari usaha kecil. Kalau memiliki visi dan konsistensi, kesempatan untuk berkembang selalu terbuka,” menjadi pesan Joko kepada para pelaku UMKM.
Ketua Panitia HRN 2026, FX Yudi Hartanto memaparkan, salah satu fokus utama HRN 2026 adalah melanjutkan program pembinaan UMKM yang telah dilaksanakan Aprindo pada HRN 2025. Pada tahun sebelumnya, Aprindo telah menjangkau hampir 1.000 pelaku UMKM melalui berbagai pelatihan, kelas online, webinar, dan pembinaan yang mencakup kualitas produk, kemasan, legalitas, pemasaran, kesiapan produksi, serta persyaratan memasuki jaringan ritel modern.
Tahun ini, upaya tersebut diarahkan pada tahap yang lebih konkret, yaitu mempertemukan UMKM dengan konsumen, peritel, dan calon mitra bisnis.
“Belajar adalah awal. Naik kelas adalah proses. Dan akses pasar adalah tujuan. Kami ingin pembinaan UMKM tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berlanjut menjadi peluang bisnis yang nyata. Karena itu, HRN 2026 menjadi jembatan bagi UMKM untuk memperkenalkan produknya, membangun jejaring, dan memperoleh kesempatan masuk ke jaringan ritel modern,” jelas Yudi


















