Namun, meski berawal dari budak menjaga kamar tidur raja, mereka perlahan bertransformasi menjadi kekuatan politik yang sangat ditakuti.
Posisi istimewa di dalam istana mereka manfaatkan untuk mengontrol jalannya pemerintahan, terutama dengan memutus hubungan dan menyaring segala komunikasi antara kaisar dengan para menterinya.
Lalu, bagaimana para kasim ini bisa membalikkan keadaan hingga mampu mendikte sebuah kekaisaran besar?Eunuch atau kasim, yang secara etimologis berasal dari kata Yunani eunoukhos berarti “keeper of the bed”, awalnya merupakan pria yang dihilangkan organ reproduksinya.
Berdasarkan artikel dari EBSCO, praktik ini sudah ada sejak 2000 SM di Timur Tengah dan Asia, termasuk Persia, Mesir, Yunani, dan Roma. Di Tiongkok kuno, kebiri bahkan sempat menggantikan hukuman mati.
Karena tidak bisa memiliki keturunan, para penguasa memercayai mereka untuk menjaga selir dan urusan domestik tanpa takut adanya perebutan takhta dari darah daging kasim.
Namun, kepercayaan ini menjadi celah. Menurut catatan World History Encyclopedia, para kasim memiliki akses eksklusif ke Istana Dalam (Neiting), area steril yang haram dimasuki oleh pejabat biasa pada malam hari.
Ketika kaisar naik takhta dalam usia masih sangat muda, para kasim memanfaatkan kedekatan emosional ini untuk menyaring semua laporan dari menteri. Akibat siasat licik ini, para menteri sering kali sama sekali tidak bisa menemui kaisar mereka sendiri.
Kondisi ini semakin parah pada abad ke-15 di era Dinasti Ming, di mana kasim membangun birokrasi tandingan yang mampu menyembunyikan dokumen dan memutus komunikasi pejabat negara.
Jumlah mereka membengkak dari 12.000 pekerja hingga mencapai sekitar 70,000 kasim di akhir dinasti. Mereka bahkan memiliki dinas rahasia dan penjara sendiri untuk menyiksa siapa saja yang menentang. Empat kasim kemudian bertindak sebagai diktator, yaitu Wang Zhen, Wang Zhi, Liu Jin, dan Wei Zhongxian.
Manipulasi komunikasi yang dilakukan kasim berulang kali menyeret kekaisaran ke dalam konflik berdarah. Pada masa Dinasti Han (206 SM – 220 M), para kasim dengan mudah menyetir deretan kaisar yang lemah. Pada tahun 124 M, mereka berani menempatkan kandidat anak pilihan mereka di takhta imperial.
Posisi mereka semakin kuat pada tahun 159 M setelah membantu Kaisar Huan menyelesaikan sengketa suksesi, yang berujung pada pemberian gelar bangsawan kepada lima kasim terkemuka.
Ketegangan memuncak saat para pejabat dan mahasiswa menggelar protes pada tahun 166 M serta tahun 168-169 M. Kasim membalasnya dengan pembersihan massal; banyak yang dipenjara dan 100 orang dieksekusi. Permaisuri Longyu bersama lima kasim, termasuk dua anak laki-laki di paling kiri dan paling kanan, dan Zhang Lande adalah yang ketiga dari kiri.
Puncaknya pada tahun 189 M, kasim membunuh Jenderal He Jin, memicu pembantaian balasan terhadap seluruh kasim di istana dan memulai perang saudara yang meruntuhkan Han pada tahun 220 M.
Politisasi dan kontrol informasi ini kembali berulang di akhir Dinasti Tang (618-907 M). Kasim yang menguasai tentara istana mulai berani mengangkat dan membunuh kaisar. Ketika rencana pembersihan kasim bocor pada tahun 835 M, mereka bergerak cepat membantai lebih dari 1.000 konspirator, termasuk mengeksekusi tiga kanselir beserta keluarga mereka di pasar Chang’an.
Meski Dinasti Song (960-1279 M) sempat melahirkan panglima militer berbakat seperti Tong Guan (1054-1126 M) dan Dinasti Ming memiliki laksamana Zheng He (1371-1433 M) yang memimpin 317 kapal menjelajahi Samudra Hindia, stigma negatif terhadap mereka tidak pernah hilang.
Sifat licik para kasim yang memotong jalur komunikasi kaisar membuat mereka dibenci oleh para cendekiawan. Huang Zongxi, seorang pemikir Neo-Konfusianis zaman Dinasti Ming, dengan tegas meringkas pandangan masyarakat terhadap mereka: “Selama ribuan tahun, semua orang tahu bahwa kasim itu seperti racun dan binatang buas.”
Praktik dominasi politik kasim ini baru benar-benar berakhir di awal abad ke-20 saat kaisar terakhir Tiongkok, Pu Yi, turun takhta.


















