WARTAPAPER.COM-Peradaban modern berhasil melahirkan kemajuan luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan ekonomi. Umur manusia semakin panjang, produksi semakin besar, komunikasi semakin cepat, dan berbagai kebutuhan hidup semakin mudah dipenuhi.
Namun di balik keberhasilan itu, lahir pula sebuah paradigma yang perlahan menguasai cara berpikir manusia, yaitu materialisme: pandangan yang menempatkan materi sebagai pusat orientasi kehidupan dan ukuran utama keberhasilan.
Dalam praktik kehidupan modern, keberhasilan sering diukur dari besarnya kekayaan, tingginya jabatan, luasnya pengaruh, mahalnya gaya hidup, serta banyaknya harta yang dimiliki. Sebaliknya, nilai-nilai seperti tauhid, ketakwaan, amanah, kejujuran, dan akhlak mulia semakin sering diposisikan sebagai urusan privat yang dianggap tidak menentukan kesuksesan.
Padahal dalam sejarah pemikiran, materialisme bukan sekadar kecintaan terhadap harta. Ia merupakan sebuah filsafat yang berkembang sejak pemikiran Yunani kuno, kemudian memperoleh bentuk modern melalui tokoh-tokoh seperti Thomas Hobbes, Ludwig Feuerbach, Karl Marx, dan aliran positivisme yang put realitas fisik sebagai satu-satunya realitas yang dianggap penting. Dalam berbagai bentuknya, materialisme menggeser perhatian manusia dari kehidupan akhirat menuju pencapaian dunia semata.
Akibatnya, manusia mulai menilai segala sesuatu berdasarkan keuntungan ekonomi, manfaat materi, dan kepuasan duniawi. Nilai moral, agama, bahkan manusia sendiri sering diperlakukan hanya sebagai alat untuk mencapai kepentingan material.
Ironisnya, sejarah juga memperlihatkan bahwa kemajuan materi tidak otomatis melahirkan kebahagiaan. Banyak negara dengan tingkat kemakmuran tinggi tetap menghadapi persoalan meningkatnya depresi, kesepian, keretakan keluarga, penyalahgunaan narkoba, bunuh diri, krisis identitas, dan hilangnya makna hidup. Fakta ini menunjukkan bahwa manusia tidak hanya memiliki kebutuhan jasmani, tetapi juga kebutuhan ruhani yang tidak dapat dipenuhi oleh materi.
Islam memandang persoalan ini secara berbeda.
Islam tidak pernah mengharamkan kekayaan. Bahkan syariat mendorong umatnya untuk bekerja keras, berdagang, mengembangkan ilmu, membangun peradaban, dan memakmurkan bumi. Rasulullah ๏ทบ, para sahabat, dan banyak ulama merupakan pedagang, pengusaha, bahkan pemilik kekayaan.
Namun Islam menempatkan harta pada posisi yang benar: sebagai amanah dan sarana ibadah, bukan tujuan hidup.(27/06/2026)
๐๐๐๐๐ ๐๐-๐ค๐จ๐ฅ’๐๐ก
Allah Subแธฅฤnahu wa Taโฤlฤ berfirman:
ยซ”Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, serta berlomba-lomba dalam harta dan anak…”
(QS. Al-แธคadฤซd: 20)ยป
Ayat ini bukan mencela dunia secara mutlak, tetapi mengingatkan agar manusia tidak tertipu oleh gemerlap dunia sehingga melupakan kehidupan akhirat.
Allah Subแธฅฤnahu wa Taโฤlฤ berfirman:
ยซ”Carilah pada apa yang telah Allah karuniakan kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qaแนฃaแนฃ: 77)ยป
Ayat ini menjadi landasan keseimbangan Islam. Dunia dimanfaatkan sebaik-baiknya, tetapi orientasi akhirnya tetap menuju ridha Allah.
Allah Subแธฅฤnahu wa Taโฤlฤ berfirman:
ยซ”Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-แธคujurฤt: 13)ยป
Islam menolak ukuran kemuliaan berdasarkan harta, kekuasaan, ras, maupun status sosial. Standar kemuliaan hanyalah ketakwaan.
๐ปhttps://www.facebook.com/share/p/1DSfpY4pUw/
๐๐๐๐๐ ๐๐๐ฅ๐ ๐ฆ๐จ๐ก๐ก๐๐ ๐ฅ๐๐ฆ๐จ๐๐จ๐๐๐๐ ๏ทบ
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
ยซ”Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)ยป
Dalam hadis lain Rasulullah ๏ทบ bersabda:
ยซ”Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian. Yang aku khawatirkan ialah apabila dunia dibentangkan kepada kalian sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba, sehingga dunia membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)ยป
Hadis ini menunjukkan bahwa fitnah terbesar umat bukan selalu kemiskinan, tetapi ketika dunia menguasai hati manusia.
๐ฃ๐๐ก๐๐จ๐๐ง๐๐ก ๐๐๐ ๐๐๐ & ๐ฆ๐ข๐ฆ๐๐ข๐๐ข๐๐๐ฆ
Psikologi modern menunjukkan bahwa hubungan antara pendapatan dan kebahagiaan bersifat terbatas. Setelah kebutuhan dasar manusia terpenuhi, peningkatan kekayaan tidak selalu diikuti peningkatan kesejahteraan psikologis yang sebanding. Faktor seperti makna hidup, kualitas keluarga, rasa syukur, kesehatan mental, hubungan sosial, serta tujuan hidup justru memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap kebahagiaan.
Dalam sosiologi dikenal pula fenomena consumerism dan hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia terus mengejar kepemilikan baru tanpa pernah mencapai kepuasan yang bertahan lama. Akibatnya lahirlah budaya konsumtif, persaingan status sosial, utang konsumsi, kecemasan, dan rasa tidak pernah cukup.
Fenomena ini semakin menguatkan apa yang telah diajarkan Islam lebih dari empat belas abad yang lalu: bahwa hati manusia tidak akan dipenuhi oleh materi, melainkan dengan mengingat Allah dan menjalani hidup sesuai petunjuk-Nya.
๐๐๐ฆ๐๐ ๐ฃ๐จ๐๐๐ก
Materialisme menjadikan materi sebagai tujuan hidup.
Islam menjadikan materi sebagai amanah dan sarana beribadah.
Materialisme mengukur keberhasilan dari kepemilikan.
Islam mengukur kemuliaan dari ketakwaan, amal saleh, dan keikhlasan.
Materialisme mengajarkan manusia mengejar dunia tanpa batas.
Islam mengajarkan manusia memanfaatkan dunia untuk meraih akhirat.
Karena itu, seorang Muslim tidak diperintahkan meninggalkan dunia, tetapi juga tidak boleh menjadikan dunia sebagai orientasi hidupnya. Harta yang berada di tangan adalah nikmat. Namun apabila harta telah menguasai hati, ia berubah menjadi fitnah yang dapat melalaikan manusia dari tujuan penciptaannya.
Rasulullah ๏ทบ Bersabda:
ยซ”Barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, Allah akan menjadikan kecukupan dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina. Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan menjadikan kefakiran di depan matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sebatas yang telah ditetapkan baginya.”
(HR. At-Tirmidzi)ยป
๐ฆ๐๐๐๐ฅ๐๐๐ก ๐๐๐๐ช๐๐ ๐ฃ
Jika seri ini menyadarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak pernah dapat dibeli dengan materi semata, jangan biarkan ia berhenti pada diri kita.
โก๏ธ Sebarkan agar semakin banyak umat memahami bahwa Islam tidak memusuhi kekayaan, tetapi memerangi penyembahan terhadap dunia.
๐ฅ Ikuti seri berikutnya:
โก๏ธ Hari 14: ๐ ๐๐ก๐๐๐ฃ๐ ๐จ๐ ๐๐ง ๐๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐ฅ๐จ๐ฆ ๐ ๐๐ ๐๐๐๐ ๐ ๐ฃ๐๐ฅ๐๐ก๐ ๐ฃ๐๐ ๐๐๐๐ฅ๐๐ก?
#IslamKaffah #NgajiPemikiran #Materialisme #WorldviewIslam #Tauhid #Akhirat #PeradabanIslam #KesadaranUmat #DakwahIlmiah
Editor:Red/WP


















