JAKARTA|WARTAPAPER.COM-Dua foto ini bukan sekadar dokumentasi sejarah, melainkan satu kesatuan narasi perjuangan. Foto pertama memperlihatkan para tokoh yang membangun fondasi gerakan, sedangkan foto kedua menjadi kelanjutan historis yang merekam estafet kepemimpinan Sarekat Islam dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mulai dari Sarekat Dagang Islam (๐ฆ๐๐), Sarekat Islam (๐ฆ๐), Partai Sarekat Islam (๐ฃ๐ฆ๐), hingga Partai Sarekat Islam Indonesia (๐ฃ๐ฆ๐๐). Dari transformasi organisasi inilah lahir banyak pemimpin bangsa yang memberi arah bagi perjuangan menuju Indonesia merdeka.
Di dalam bingkai tersebut terpampang tokoh-tokoh utama seperti ๐๐ฎ๐ท๐ถ ๐ฆ๐ฎ๐บ๐ฎ๐ป๐ต๐๐ฑ๐ถ, ๐.๐ข.๐ฆ. ๐ง๐ท๐ผ๐ธ๐ฟ๐ผ๐ฎ๐บ๐ถ๐ป๐ผ๐๐ผ, ๐๐ฎ๐ท๐ถ ๐๐ด๐๐ ๐ฆ๐ฎ๐น๐ถ๐บ, ๐๐ฏ๐ฑ๐ผ๐ฒ๐น ๐ ๐ผ๐ฒ๐๐ต๐ฎ๐น๐ถ๐ฏ ๐ฆ๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ฑ๐ท๐ถ, dan ๐๐ฏ๐ถ๐ธ๐ผ๐ฒ๐๐ป๐ผ ๐ง๐ท๐ผ๐ธ๐ฟ๐ผ๐๐ผ๐ฒ๐ท๐ผ๐๐ผ, bersama sejumlah tokoh pergerakan lainnya. Mereka bukan sekadar berada dalam organisasi yang sama, melainkan menjadi mata rantai kepemimpinan Sarekat Islam selama lebih dari empat dekade.
Menariknya, sejak awal Sarekat Islam telah mencerminkan semangat kebangsaan yang melampaui batas kedaerahan. ๐๐ฎ๐ท๐ถ ๐๐ด๐๐ ๐ฆ๐ฎ๐น๐ถ๐บ ๐ต๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฟ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ ๐ฟ๐ฒ๐ฝ๐ฟ๐ฒ๐๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐๐ถ ๐ฆ๐๐บ๐ฎ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ, sementara ๐.๐ . ๐ฆ๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ฑ๐ท๐ถ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฟ๐ฒ๐ฝ๐ฟ๐ฒ๐๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐๐ถ ๐ฝ๐ฒ๐ป๐๐ถ๐ป๐ด ๐๐ป๐ฑ๐ผ๐ป๐ฒ๐๐ถ๐ฎ ๐ง๐ถ๐บ๐๐ฟ dalam jajaran kepemimpinan nasional Sarekat Islam. Hal ini menunjukkan bahwa organisasi tersebut telah mempersatukan putra-putri terbaik Nusantara jauh sebelum Indonesia diproklamasikan sebagai sebuah negara.
Perjalanan itu dimulai ketika Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam pada tahun 1905 sebagai organisasi yang memperjuangkan kepentingan ekonomi kaum pribumi. Dalam perkembangannya, organisasi ini menjelma menjadi gerakan sosial, politik, dan kebangsaan yang menjadi salah satu embrio kebangkitan nasional Indonesia.
Tongkat estafet kemudian berada di tangan H.O.S. Tjokroaminoto sebagai Ketua Centraal Sarekat Islam yang kemudian memimpin transformasi organisasi menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Di bawah kepemimpinannya, Sarekat Islam berkembang menjadi organisasi politik terbesar di Hindia Belanda sekaligus “sekolah politik” yang melahirkan banyak pemimpin bangsa.
Di samping Tjokroaminoto berdiri Haji Agus Salim sebagai Sekretaris Centraal Sarekat Islam sekaligus salah satu pemikir utama Partai Sarekat Islam. Dengan keluasan ilmu, kecerdasan intelektual, dan kemampuan diplomasi yang luar biasa, Agus Salim memberikan arah bagi perjuangan politik Sarekat Islam hingga masa kemerdekaan.
Sementara itu, A.M. Sangadji dipercaya menjabat Presiden Lajnah Tanfidziyah (Pimpinan Eksekutif) Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) pada masa akhir kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Amanah tersebut menunjukkan bahwa Sangadji berada dalam lingkaran kepemimpinan tertinggi organisasi dan memegang tanggung jawab strategis dalam menjalankan roda organisasi sehari-hari.
Setelah H.O.S. Tjokroaminoto wafat pada 17 Desember 1934, kepemimpinan PSII dilanjutkan oleh Abikoesno Tjokrosoejoso, adik kandung Tjokroaminoto sebagai Ketua Umum. Pada periode inilah ๐๐ฎ๐ท๐ถ ๐๐ด๐๐ ๐ฆ๐ฎ๐น๐ถ๐บ dan ๐.๐ . ๐ฆ๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ฑ๐ท๐ถ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ด๐ฎ๐ด๐ฎ๐ ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฃ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฟ bersama tokoh lainnya, sebuah gerakan pembaruan yang bertujuan membangkitkan kesadaran politik, dan kebangsaan sebagai ikhtiar memperkuat perjuangan nasional. Hal ini membuktikan bahwa estafet perjuangan tidak pernah terputus, tetapi terus berkembang mengikuti dinamika zaman.
Ketika Revolusi Kemerdekaan Indonesia (1945โ1949) meletus, A.M. Sangadji kembali memperlihatkan konsistensi perjuangannya. Setelah bebas dari tawanan Jepang, ia mengorganisasi kekuatan rakyat di Kalimantan, hingga masa perjanjian Linggarjati dan Agresi Militer Belanda I, bersama sejumlah tokoh Republik lainnya, ia membangkitkan semangat rakyat untuk tetap mempertahankan wilayahnya dari upaya kembalinya kolonialisme Belanda.
Melalui rapat-rapat rakyat, pendidikan politik, dan pembentukan organisasi perjuangan, ia menumbuhkan semangat perlawanan terhadap pendudukan kembali Hindia Belanda di Kalimantan. Aktivitas tersebut akhirnya berujung pada penangkapan dan pemenjaraannya oleh Belanda.
Setelah dibebaskan dari Penjara Cipinang, A.M. Sangadji kembali ke Yogyakarta untuk melanjutkan pengabdiannya kepada Republik. Di sana ia tampil sebagai pemimpin Laskar Hisbullah, tokoh Partai Masyumi, Penasehat Pemerintahan Republik, serta Penasehat Delegasi Republik dalam masa Perundingan Renville. Ketika Agresi Militer Belanda II meletus dan para pemimpin Republik ditawan serta diasingkan, A.M. Sangadji tetap menggelorakan semangat perjuangan rakyat agar tetap setia mempertahankan Republik Indonesia. Hingga wafatnya pada 8 Mei 1949, ia tetap berada di garis depan perjuangan pada salah satu fase paling menentukan dalam sejarah bangsa.
Negara telah memberikan penghargaan tertinggi kepada hampir seluruh mata rantai kepemimpinan tersebut.
Haji Samanhudi, H.O.S. Tjokroaminoto, dan Haji Agus Salim dianugerahi gelar Pahlawan Nasional tahun 1961, sedangkan Abikoesno Tjokrosoejoso pada tahun 1992. Bahkan, banyak tokoh Sarekat Islam di berbagai daerah juga telah memperoleh gelar Pahlawan Nasional sebagai bentuk penghormatan negara atas jasa-jasa mereka.
Namun, di antara para pemimpin yang terpampang dalam bingkai sejarah tersebut, A.M. Sangadji menjadi satu-satunya tokoh yang hingga hari ini belum memperoleh pengakuan resmi sebagai Pahlawan Nasional.
Padahal, rekam jejak perjuangannya tidak berhenti pada kepemimpinan organisasi. Ia hadir dalam setiap fase penting perjalanan bangsa, mulai dari Pergerakan Nasional, kepemimpinan PSII, Gerakan Penyadar, Revolusi Kemerdekaan, perjuangan rakyat di Kalimantan, penahanan oleh Belanda, perjuangan di Yogyakarta, hingga keterlibatan dalam pemerintahan dan diplomasi Republik. Pengabdiannya berlangsung tanpa jeda sejak masa kolonial hingga akhir hayatnya.
Karena itu, pertanyaan yang patut diajukan ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐น๐ฎ๐ด๐ถ apakah A.M. Sangadji layak menjadi Pahlawan Nasional. ๐ฅ๐ฒ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ท๐ฒ๐ท๐ฎ๐ธ๐ป๐๐ฎ ๐๐ฒ๐น๐ฎ๐ต ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ท๐ฎ๐๐ฎ๐ฏ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด.
Pertanyaan yang sesungguhnya adalah,
“Apakah mata rantai sejarah Sarekat Islam dapat dikatakan utuh apabila satu-satunya pemimpin nasional dalam bingkai sejarah itu masih belum memperoleh pengakuan negara sebagai Pahlawan Nasional ?”
Apabila Haji Samanhudi merupakan peletak dasar Sarekat Dagang Islam, H.O.S. Tjokroaminoto pembangun organisasi, Haji Agus Salim pemikir dan diplomatnya, serta Abikoesno Tjokrosoejoso penerus kepemimpinan politiknya, maka A.M. Sangadji adalah mata rantai yang menghubungkan perjuangan Sarekat Islam dengan Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Ia mengawal estafet perjuangan itu dari masa pergerakan hingga republik berdiri dan dipertahankan.
Sejarah tidak pernah meminta belas kasihan. Sejarah hanya meminta kejujuran. Ketika bukti-bukti telah lengkap, arsip telah berbicara, museum telah mengabadikan, dan para sejarawan telah menempatkan A.M. Sangadji dalam mozaik perjuangan bangsa, maka yang tersisa hanyalah keberanian negara untuk menyempurnakan mata rantai sejarah itu melalui pengakuan resmi sebagai Pahlawan Nasional. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya mengenang para pejuangnya, tetapi juga memastikan tidak ada satu pun pejuang yang tertinggal dari penghormatan negaranya.
๐ฃ๐ฒ๐ป๐๐๐๐ฝ
Mentari terbit di ufuk timur
Sinarnya jatuh ke seluruh negeri
Sejarah tak memilih siapa yang masyhur
Namun keadilanlah yang mengabadikan jasa para pejuang sejati.๐ฎ๐ฉ
#HajiSamanhudi #HOSTjokroaminoto #HajiAgusSalim #AMSangadji #AbikoesnoTjokrosoejoso
Tinggal ๐.๐ . ๐ฆ๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ฑ๐ท๐ถ Menunggu Keadilan Negara
John Panjaitan/WP


















