JAKARTA|WARTAPAPER.COM- Sejumlah penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta terdampak penundaan pada Minggu (6/9/2026). Kondisi cuaca buruk serta aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berpotensi mengganggu keselamatan dan operasional penerbangan menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan.
Salah seorang penumpang, Ketua DPW LSM PAKAR Sumatera Utara, Elyta, turut mengalami dampak tersebut. Ia sedianya dijadwalkan terbang menuju Medan menggunakan maskapai Lion Air pada pukul 17.00 WIB. Namun, penerbangannya tidak dapat diberangkatkan sesuai jadwal sehingga harus dijadwal ulang.
Sekretaris DPW LSM PAKAR Sumut menyampaikan bahwa Elyta akhirnya memilih jadwal penerbangan pada 9 September 2026 setelah mendapat informasi mengenai opsi reschedule dari pihak maskapai.
“Semoga Ketua Elyta sehat-sehat saja di Bandara Soekarno-Hatta. Keberangkatan dibatalkan sampai 9 September karena erupsi Gunung Anak Krakatau. Mohon doa dari kawan-kawan semua,” ujarnya.
Dikonfirmasi terkait kondisi tersebut, Elyta mengatakan dirinya memahami bahwa keselamatan penerbangan merupakan prioritas utama. Menurutnya, gangguan penerbangan yang terjadi bukan semata-mata akibat kelalaian maskapai, melainkan berkaitan dengan kondisi alam yang dinilai belum memungkinkan untuk melakukan penerbangan secara normal.
“Ini kan musibah, bukan karena kelalaian maskapai. Semua maskapai penerbangan mengalami hal serupa dan tidak bisa terbang hari ini. Kita harus saling mendoakan agar kondisi segera pulih,” kata Elyta.
Namun demikian, Elyta menyoroti persoalan kepastian informasi kepada penumpang. Ia berharap instansi terkait dapat memberikan analisis dan informasi yang lebih terukur mengenai dampak erupsi terhadap penerbangan, sehingga masyarakat tidak berada dalam ketidakpastian ketika menentukan jadwal perjalanan.
Menurutnya, informasi mengenai reschedule yang diterima penumpang masih belum memberikan kepastian. Salah satu opsi disebut dapat dimulai pada 8 September, tetapi belum dapat dipastikan apakah penerbangan benar-benar dapat dilakukan pada tanggal tersebut.
“Harapan saya instansi terkait seperti BMKG dan AirNav bisa melakukan analisa lebih detail dan akurat terhadap erupsi ini, misalnya dampaknya dan kemungkinan erupsi berikutnya, agar bisa memberikan kepastian kepada masyarakat,” ujarnya.
“Karena kita sebagai konsumen atau penumpang tidak diberikan kepastian jadwal terbang. Reschedule disampaikan bisa mulai tanggal 8 September, tetapi mereka bilang belum dipastikan. Makanya saya memilih tanggal 9,” sambungnya.
Elyta juga meminta pemerintah pusat dan seluruh instansi terkait memperkuat langkah mitigasi serta penyampaian informasi publik ketika terjadi bencana alam yang berdampak terhadap sektor transportasi.
Ia menilai, dalam situasi seperti ini, keselamatan memang harus menjadi pertimbangan utama. Namun, aspek kepastian informasi, koordinasi antarlembaga, dan komunikasi kepada masyarakat juga tidak boleh diabaikan.
“Jangan sampai musibah ini dimanfaatkan oleh segelintir kelompok untuk memperburuk keadaan dengan menyebarkan hoaks dan provokasi di ruang publik. Yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah informasi yang akurat, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Gangguan penerbangan akibat aktivitas vulkanik sekaligus menjadi pengingat pentingnya kesiapan sistem mitigasi bencana dan komunikasi krisis. Ketika aktivitas gunung api berdampak langsung terhadap jalur penerbangan, masyarakat membutuhkan informasi yang cepat, akurat dan konsisten agar dapat mengambil keputusan perjalanan secara tepat.
Pemerintah melalui instansi terkait diharapkan memastikan informasi mengenai kondisi atmosfer, dampak abu vulkanik terhadap jalur penerbangan, serta perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat disampaikan secara berkala kepada maskapai dan calon penumpang.
Dengan demikian, keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas tanpa mengorbankan hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang jelas mengenai kepastian perjalanan mereka.
(John Panjaitan/WP)


















