PARAPAT|WARTAPAPER.COM – Di balik tepuk tangan yang akan mengiringi setiap pertunjukan tari pada Geofest 2026, tersimpan perjalanan panjang yang jarang diketahui orang.
Ketika para peserta festival menikmati Tari Tandok dan berbagai tarian tradisional lainnya, sesungguhnya mereka sedang menyaksikan hasil latihan yang tidak lahir dalam semalam.
Ada anak-anak muda yang bertahun-tahun mengabdikan dirinya di Sanggar Dolok Sipiak dan sanggar-sanggar binaan Dinas Kebudayaan Kabupaten Simalungun, memilih tetap menari ketika banyak teman sebayanya meninggalkan dunia seni.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan kenyataan bahwa menjadi penari tradisional bukan karier yang menjanjikan kemewahan.
Mereka berlatih bukan karena tahu akan mendapat panggung. Mereka berlatih karena mencintai budaya dan menujukkan bakat dan kreativitas mereka di hadapan para penonton.
Mereka tampil bukan hanya sebagai pengisi acara, tetapi menjadi wajah pertama yang menyambut para tamu dengan budaya Simalungun dan Toba.
Rumah Seni Dolok Sipiak sendiri lahir dari mimpi sederhana yakni menyediakan ruang bagi generasi muda untuk berkarya, menjaga budaya, sekaligus menghidupkan pariwisata Parapat.
Namun perjuangan mereka jauh dari kata mudah. Bahkan ketika ada yang ingin mengundang mereka tampil, pembicaraan bukan dimulai dari tarif.
“Kalau ada kegiatan sosial, masa semua harus dihitung uang? Tidak mungkin begitu!”
Salah satu bagian percakapan yang paling menyentuh justru muncul ketika pembicaraan beralih dari tari menuju kondisi pariwisata Parapat.
“Banyak orang hanya pandai komplain. Tapi apa perbuatannya untuk Parapat?”
Ia mengaku sedih melihat banyak orang ingin pariwisata maju, tetapi sedikit yang benar-benar mau bekerja atau berkarya.
Menurutnya, menghidupkan kota wisata tidak cukup hanya dengan kritik di media sosial.
Harus ada orang-orang yang mau berkeringat.
Harus ada anak-anak muda yang mau tetap menari.
Harus ada komunitas yang terus berlatih meski belum tentu mendapat panggung.
Karena itu, Geofest 2026 menjadi sangat berarti.
Festival ini bukan hanya memberikan hiburan kepada ratusa peserta UNESCO Global Geopark maupun masyarakat.
Festival ini memberi ruang bagi para penari untuk menunjukkan hasil latihan bertahun-tahun yang selama ini mungkin hanya disaksikan masyarakat lokal.
Lebih dari itu, Geofest menjadi bukti bahwa investasi terbesar dalam pariwisata bukan hanya membangun jalan atau gedung.
Membangun generasi yang bangga mengenakan pakaian adat.
Bangga menarikan Tari Tandok dan tarian tradisonal lainnya.
Bangga memperkenalkan budaya leluhurnya kepada dunia.
Dalam percakapan itu, ada satu harapan yang diucapkan dengan sangat pelan, tetapi terasa begitu dalam.
“Hidupkan dulu seniman-seniman Parapat. Jangan langsung bicara uang! Kobarkan dulu semangatnya, baru nanti kita bicara yang lain.”
Kalimat itu mungkin menjadi inti dari seluruh perjuangan mereka.
Sebab bagi para penari Sanggar Dolok Sipiak dan sanggar binaan Dinas Kebudayaan Kabupaten Simalungun, tepuk tangan di Geofest 2026 bukan sekadar penghargaan atas sebuah pertunjukan.
Itu adalah tanda bahwa perjuangan mereka menjaga budaya belum sia-sia.
Bahwa masih ada orang yang mau menonton.
Masih ada yang mau menghargai.
Masih ada harapan agar Parapat tetap dikenal bukan hanya karena indahnya Danau Toba, tetapi juga karena anak-anak mudanya yang memilih menjaga warisan budaya di tengah perubahan zaman.
Editor:Red/WP


















