NICOSIA|WARTAPAPER.COM – Eskalasi konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah kian membara setelah Kementerian Pertahanan Britania Raya mengambil keputusan mengejutkan dengan mengerahkan armada militer raksasa bernilai fantastis mencapai 3 hingga 5 miliar dolar AS. Rangkaian alutsista tercanggih milik London, mulai dari jet tempur siluman F-35B, pesawat pembom Eurofighter Typhoon, armada pesawat nirawak (drone), helikopter serbu, hingga unit pesawat pengisi bahan bakar udara Voyager dipastikan telah mendarat di pangkalan udara strategis RAF Akrotiri di Siprus serta basis militer sekutu di Qatar. Langkah mobilisasi kilat ini memicu alarm bahaya tingkat tinggi di Teheran, lantaran penempatan perangkat keras militer terbaik Inggris ini diproyeksikan untuk memperkuat barisan pertahanan udara barat di tengah badai ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kian tak terkendali.
Keputusan dramatis untuk menerjunkan aset senilai puluhan triliun rupiah ini diambil London menyusul insiden mematikan di mana pangkalan berdaulat RAF Akrotiri sempat kedapatan dihantam oleh serangan drone bunuh diri misterius. Demi menutup celah kerentanan logistik tersebut, Angkatan Udara Inggris (RAF) tidak hanya mempertebal payung pertahanan rudal mereka, melainkan juga menguji coba sistem rudal berbiaya murah Advanced Precision Kill Weapon System (APKWS) pada jet-jet Typhoon mereka. Modifikasi taktis ini sengaja diterapkan agar jet tempur supersonik mereka mampu melumpuhkan ratusan drone murah tiruan Shahed milik Iran secara efektif di udara tanpa harus menguras anggaran pertahanan secara boros.
Pengerahan masif di bawah komando darurat ini terbukti langsung mencatatkan sejarah militer baru di mana armada jet siluman F-35B Inggris berhasil menorehkan rekor kemenangan tempur udara (combat kill) perdana mereka sepanjang sejarah kepemilikan angkatan bersenjata. Dalam serangkaian intersepsi udara yang menegangkan, jet-jet siluman tersebut berhasil melacak dan merontokkan rudal jelajah serta drone Iran yang mencoba menyusup ruang udara Yordania, Irak, dan semenanjung Qatar. Meskipun Perdana Menteri baru Inggris menegaskan bahwa pergerakan armada tempur ini murni bersifat defensif untuk melindungi navigasi maritim global, kehadiran pembom taktis Inggris di perimeter luar perbatasan Teluk ini kian mempertegas kesiapan koalisi internasional dalam menghadapi skenario perang terbuka jangka panjang.
Sumber Berita : Al Jazeera
#MiliterInggris #KrisisSiprus #GeopolitikTimurTengah #BeritaMiliter
John Panjaitan/WP


















