Permintaan itu disampaikan setelah FY mengalami kejang ketika hendak menjalani pemeriksaan Elektroensefalografi atau EEG di RSUP H Adam Malik Medan, Sumatera Utara.
“Kita minta, ya dari BGN, bahkan dari instansi-instansi yang terkait untuk bisa menangani mereka secara serius,” kata Saan kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 9 September 2026.
“Sekali lagi, kami meminta agar ditangani secara serius karena ini sudah pada level yang cukup memprihatinkan. Ini penting untuk segera ditangani,” ujar politikus Partai NasDem itu.
Saan juga menyoroti persoalan biaya pengobatan. Menurut dia, pemerintah perlu memastikan biaya pemulihan korban ditangani secara serius sehingga keluarga tidak semakin terbebani.
“Termasuk juga karena pasti mereka yang keracunan itu kan berasal dari kalangan keluarga yang kurang mampu,” kata Saan.
Ia menambahkan, perhatian pemerintah tidak boleh berhenti pada penanganan awal, tetapi juga mencakup biaya pemulihan kesehatan korban.
Kondisi FY sebelumnya disampaikan oleh ibunya, Elvinus Lusiana br Sitanggang. Elvinus mengatakan kondisi anaknya belum kembali seperti semula sejak mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG pada Agustus 2026.
“Kami kemari mau kasih EEG. Tapi tadi anak saya tiba-tiba kejang. Terus, kata dokternya tidak ada penyakitnya. Tapi kenapa bisa anakku seperti itu? Jadi aku tidak puas sama hasil yang disampaikan dokter,” ujar Elvinus.
FY merupakan siswi SMK Bersama Berastagi. Ia disebut mengalami gangguan kesehatan bersama ratusan pelajar lainnya di Kabupaten Karo setelah menyantap menu MBG pada pertengahan Agustus 2026.
Elvinus mengatakan keluarga hingga kini belum memperoleh kepastian mengenai penyakit yang dialami putrinya. Ia menyebut dokter meminta keluarga merekam kondisi FY jika kembali mengalami kejang untuk membantu proses pemeriksaan.
Bagi keluarga, kondisi tersebut menjadi pukulan berat. FY disebut sebagai siswi berprestasi yang kerap meraih juara kelas dan aktif dalam organisasi sekolah sebagai wakil ketua.
Di sisi lain, RSUP H Adam Malik memberikan penjelasan mengenai kondisi medis FY. Manajer Hukum dan Humas RSUP H Adam Malik Medan, Rosario Dorothy Simanjuntak, mengatakan FY telah tiga kali menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.
Pada pemeriksaan terakhir, FY menjalani EEG untuk mendeteksi kemungkinan gangguan fungsi otak. Namun, menurut Rosario, kondisi pasien saat ini tergolong stabil.
Rosario mengatakan penanganan medis terhadap FY tetap akan dilanjutkan. Untuk pembiayaan, perawatan pasien ditanggung melalui BPJS Kesehatan.
Perbedaan informasi antara kekhawatiran keluarga dan hasil pemantauan medis tersebut menunjukkan pentingnya pemeriksaan lanjutan untuk memperoleh kepastian mengenai kondisi FY.
Adapun dugaan bahwa gangguan kesehatan FY berkaitan dengan konsumsi MBG masih memerlukan pembuktian melalui pemeriksaan medis dan laboratorium. Kepastian mengenai penyebab gangguan kesehatan menjadi penting, baik untuk menentukan penanganan korban maupun sebagai bahan evaluasi pelaksanaan program MBG.


















