banner 325x300
Sorotan tersebut disampaikan Tere Liye melalui unggahannya di media sosial. Ia menyinggung banyaknya pejabat yang terus dilantik dalam pemerintahan Prabowo.
“Hobinya melantik pejabat,” kata Tere Liye dalam kritiknya, beberapa waktu lalu.

Pernyataan itu menjadi sindiran terhadap frekuensi pelantikan pejabat yang berlangsung di era pemerintahan Prabowo.

Menurut Tere Liye, kondisi tersebut ikut memperlihatkan semakin besarnya postur pemerintahan saat ini.

Kritik tersebut bukan semata soal siapa yang dilantik. Perhatian utamanya berada pada ukuran birokrasi dan efektivitas pemerintahan ketika semakin banyak posisi serta pejabat berada di dalam struktur kekuasaan.

Perbandingan dengan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo juga menjadi bagian dari sorotan tersebut.

Tere Liye menilai postur pemerintahan Prabowo jauh lebih besar dibandingkan dua pemerintahan sebelumnya.

Di tengah kritik itu, publik tentu akan menilai apakah penambahan struktur pemerintahan mampu menghasilkan kinerja yang lebih efektif atau justru membuat birokrasi semakin besar.

Karena itu, banyaknya pejabat yang dilantik bukan hanya menjadi persoalan politik, tetapi juga menyangkut pertanyaan sederhana: seberapa besar struktur pemerintahan dibutuhkan agar negara bekerja lebih efektif?

Kritik Tere Liye pun menambah daftar perhatian publik terhadap cara pemerintahan Prabowo membangun struktur kekuasaan dan menempatkan para pejabatnya.

(Redaksi/WP)