banner 728x250

Atasi Kekurangan Air Bersih Memasuki Musim Kemarau, Pemkab Bandung Barat Siapkan Tiga Tangki

banner 120x600
banner 468x60

 

BANDUNG|WARTAPAPER.COM- Kabupaten Bandung Barat (KBB) termasuk salah satu daerah yang berpotensi tinggi mengalami kekeringan, pada saat musim kemarau.

Berdasarkan data kejadian pada tahun 2023, ada delapan kecamatan yang rentan kekurangan air bersih seperti Kecamatan Cisarua, Ngamprah, Padalarang, Cipatat, Cipeundeuy, Cikalongwetan, Rongga, dan Gununghalu.

banner 325x300

Sementara pada tahun 2024, wilayah yang terdampak kekeringan berada di tujuh kecamatan, yakni  Batujajar, Ngamprah, Padalarang, Cipatat, Cisarua, Cikalongwetan dan Cipeundeuy.

Pemkab Bandung Barat mengantisipasi persoalan tersebut pada tahun 2026, dengan memberikan bantuan langsung pengiriman air bersih ke lokasi-lokasi yang dianggap rawan tersebut.

Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail menyatakan jika Pemkab Bandung Barat , melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menyiapkan tiga unit mobil tangki air,  untuk mendistribusikan air bersih ke warga.

Untuk pendistribusian air bersih tersebut,  dilakukan berdasarkan laporan dari aparatur kewilayahan. Ia mengintruksikan aparat yang berada di kewilayahan seperti camat atau kepala desa harus responsif ketika warganya mengeluhkan kekurangan air bersih.

“Aparatur kewilayahan mulai dari kecamatan dan desa harus responsif serta aktif melaporkan atau mengajukan kebutuhan air bersih kepada BPBD Kabupaten Bandung Barat,” jelasnya, beberapa waktu lalu.

Jeje juga menuturkan, Pemkab Bandung Barat melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan dengan  menyiapkan tangki air dan titik distribusi air bersih.

Kemudian berkoordinasi dengan instansi terkait seperti PDAM dan pemerintah desa, untik mengoptimalkan sumber air yang masih tersedia melalui sumur bor maupun pompanisasi di lokasi yang memungkinkan.
Lebih lanjut Jeje mengatakan, jika langkah-langkah yang dilakukan dalam menghadapi musim kemarau panjang ini, sebagai tindak lanjut pasca Pemerintah Provinsi Jawa Barat menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan.

Pihaknya menerbitkan Surat Keputusan Bupati sebagai dasar pelaksanaan status siaga darurat yang berlaku mulai 1 Juli hingga 30 September 2026.

“Melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat tersebut, Kabupaten Bandung Barat menjadi salah satu wilayah kabupaten/kota yang ditetapkan Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan lahan, “jelasnya.

Selain kekeringan, berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) Tahun 2024, KBB berisiko terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau, Pemkab Bandung Barat juga telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi.

Baca Juga

“Pemerintah Kabupaten Bandung Barat akan melakukan pemetaan dan pemantauan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi serta memperkuat koordinasi dengan Perhutani dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.

Dalam memperkuat sistem respons cepat kebencanaan, BPBD KBB telah membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana) di seluruh desa.

Keberadaan Destana ini .emungkinkan informasi kebencanaan, termasuk laporan kekurangan air bersih maupun kebakaran hutan dan lahan, dapat diterima lebih cepat oleh BPBD melalui koordinasi bersama TNI, Polri, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, relawan kebencanaan, serta Perhutani yang telah menjalin kerja sama dalam kesiapsiagaan bencana.

“Melalui Destana, informasi maupun aduan terkait kebencanaan akan lebih cepat diterima sehingga penanganan dapat segera dilakukan melalui koordinasi bersama seluruh unsur kewilayahan,” ucapnya lagi.

Terkait penanganan bencana selama masa siaga, Pemkab Bandung Barat telah menyiapkan anggaran melalui pos Belanja Tidak Terduga (BTT).

“Alokasi anggaran untuk penanganan bencana kekeringan disiapkan melalui Belanja Tidak Terduga (BTT), sedangkan besarannya akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan,” ungkapnya.

Sementara, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD KBB, Duddy Prabowo mengatakan, jika hingga saat ini yang telah mengajukan permintaan air bersih adalah Desa Citatah, Kecamatan Cipatat dan langsung di drop.

Pihaknya akan berkoordinasi dengan aparat kewilayahan untuk pengambilan air bersih dari titik lokasi terdekat.

“Akan lebih efektif apabila sumber airnya diambil dari lokasi terdekat, daripada kita kirim dari sini (sekitar kantor pemda). Tapi kalau memang tidak ada sumber air terdekat, ya dari sini juga bisa,” ucapnya.

Sementara untuk sumber air yang berada di sekitar pemda antara lain terdapat di sekitar under pass Padalarang. Kemudian di PDAM, Jalan Raya Kolonel Masturi atau di wilayah Cililin.

“Kita akan cari sumber-sumber mata airnya yang terdekat, untuk diangkut tangki dan didistribusikan ke masyarakat. Satu tangki, bisa menampung sekitar 5.000 liter air. Lumayan banyak, untuk menutupi kebutuhan warga,” pungkasnya.

Editor:John Panjaitan/WP

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *