JAKARTA|WARTAPAPER.COMBayangkan kamu anak orang nomor satu di kepolisian Indonesia. Ayahmu Jenderal Bintang Empat. Satu telepon dari rumah seharusnya bisa membukakan pintu apa saja. Tapi yang kamu lakukan justru pergi ke bengkel setiap hari, belepotan oli, demi mendapat upah yang cukup untuk membayar kuliah.
Itulah hidup Aditya Soetanto Hoegeng — anak kedua dari Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, Kapolri ke-5 Republik Indonesia yang menjabat dari 5 Mei 1968 hingga 2 Oktober 1971.
Saat Aditya kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, ia bekerja di bengkel dan toko suku cadang milik Henky Irawan, pembalap ternama Indonesia kala itu. Tidak ada yang minta tolong dicarikan pekerjaan enak. Tidak ada titipan ke bawahan ayahnya. Cuma kerja biasa, upah halal, dan pulang dengan tangan kotor.
Kenapa? Karena Hoegeng tidak pernah mengizinkan keluarganya menyentuh satu pun fasilitas dari jabatan yang ia pegang.
Keluarga Hoegeng tidak punya mobil. Tidak punya motor. Sementara anak-anak pejabat lain naik kendaraan mewah, Aditya dan saudara-saudaranya berjalan kaki atau naik kendaraan umum. Dalam sambutannya untuk buku Hoegeng, Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa terbitan Bentang, Aditya menulis: “Kami juga ingin punya kendaraan bermotor atau mobil. Namun pikiran seperti itu bisa kami atasi dengan cara hidup kami yang sederhana.”
Ayahnya tidak pernah melarang Aditya bekerja di bengkel. Pesannya hanya satu, dan Aditya menghafalnya sampai sekarang: “Di mana pun dan apa pun posisimu, bekerjalah dengan benar.”
Tapi ada satu momen yang lebih menyakitkan dari sekadar tidak punya motor.
Waktu masih SMA, Aditya bercita-cita masuk Akabri. Salah satu syaratnya adalah surat izin dari orang tua. Dengan semangat penuh, ia datang langsung ke Markas Besar Polri menemui ayahnya. Tapi sesampainya di sana, ajudan menyuruhnya menunggu. Dan ketika akhirnya bertemu, Hoegeng menerimanya bukan sebagai anak — melainkan seperti tamu biasa yang sedang mengurus keperluan. Dingin, formal, dan singkat. Hoegeng hanya menjawab “nanti saja,” lalu kembali ke tumpukan pekerjaannya. Aditya pulang dengan tangan kosong.
Surat itu tidak pernah ditandatangani. Begitu pula ketika Aditya mencoba jalur lain untuk masuk Akademi Angkatan Udara — Hoegeng tetap menolak memberi rekomendasi. Bukan karena tidak sayang. Tapi karena ia tidak mau ada satu pun anggota keluarganya yang masuk ke institusi negara lewat jalur belakang bernama “ayah saya Kapolri.”
Aditya sempat kecewa. Marah. Tapi seiring waktu, ia justru berterima kasih.
Yang paling membekas baginya adalah jawaban atas sebuah pertanyaan kecil yang pernah ia ajukan kepada ayahnya: mengapa tanda tangan di semua dokumen hanya tertulis “Hoegeng”, bukan nama lengkap Hoegeng Iman Santoso?
Ayahnya terdiam. Memegang tangan Aditya. Lalu menjawab pelan.
“Dit, saya akan buktikan sampai saya meninggal bahwa iman saya betul-betul sentosa. Baru saya pantas menyandang nama lengkap saya.”
Aditya mengaku setiap menceritakan momen itu, ia merinding.
Hoegeng memang membuktikannya sampai akhir. Ketika ia dicopot dari jabatan Kapolri oleh Soeharto pada 2 Oktober 1971 — diduga karena terlalu keras mengusut kasus-kasus yang menyentuh lingkaran kekuasaan, termasuk kasus pemerkosaan Sum Kuning dan penyelundupan mobil mewah oleh Robby Tjahjadi — ia mengembalikan semua inventaris dinas tanpa sisa. Penggantinya, Jenderal M. Hasan, sampai geleng kepala melihatnya. “Kamu kok gila-gilaan, semua barang kamu kembalikan?” Hoegeng menjawab: “Habis, memang bukan milik saya.”
Setelah pensiun, Hoegeng hidup dari uang pensiun yang jumlahnya menyedihkan: sampai tahun 2001, pensiunan bulanannya hanya sekitar Rp10.000. Baru setelah ada penyesuaian, naik menjadi sekitar Rp1 juta. Seorang mantan Kapolri. Dengan uang pensiun segitu.
Ia mengisi hari-hari tuanya dengan melukis, berkebun di Jonggol, dan bermain Hawaiian guitar bersama grupnya The Hawaiian Seniors yang rutin tampil di TVRI. Bukan gaya hidup mantan jenderal. Tapi itulah Hoegeng.
Hoegeng Iman Santoso wafat pada 14 Juli 2004 di RSCM Jakarta. Ia pergi di usia 82 tahun, meninggalkan istri tercintanya Meriyati Roeslani yang mendampinginya sejak mereka menikah di Jetis, Yogyakarta, pada 31 Oktober 1946.
Aditya Soetanto Hoegeng kini menjabat sebagai Vice President Director PT Yamaha Musik Indonesia Distributor. Jauh dari kepolisian, jauh dari jabatan militer yang pernah ia impikan. Tapi ia membawa sesuatu yang jauh lebih berharga dari pangkat: nama baik seorang ayah yang tidak pernah ia malu-malukan.
Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid pernah berkata: “Di Indonesia ini hanya ada tiga polisi jujur: Hoegeng, polisi tidur, dan polisi dari patung.” Kalimat itu terdengar seperti lelucon. Tapi bagi siapa pun yang tahu kisah anak jenderal yang kerja di bengkel demi biaya kuliah — itu terasa sangat serius.
Editor:John Panjaitan/WP


















