WARTAPAPER.COM-Ada seseorang yang gemar menyebut orang lain bodoh. Hampir setiap hari lisannya dipenuhi ejekan, seolah dirinya adalah standar kecerdasan.
sebuah kesimpulan harus lahir dari premis yang benar dan argumentasi yang valid.
Premis pertama: Orang cerdas mampu membangun argumen dengan data dan logika.
Premis kedua: Orang yang kehabisan argumen biasanya beralih pada hinaan personal.
Kesimpulan logisnya:
Jika seseorang lebih banyak menghina daripada berargumen, maka besar kemungkinan yang lemah bukan lawannya, melainkan kapasitas berpikirnya sendiri.
Sebab akal yang terlatih akan membantah dengan analisis.
Sedangkan ego yang dangkal akan menyerang dengan cacian.
Ironisnya, orang yang paling sering berteriak “bodoh!” kadang justru sedang memproyeksikan kekosongan isi kepalanya sendiri
Klaim tanpa dalil adalah lemah.
Hinaan tanpa argumentasi lebih lemah lagi.
Maka ketika seseorang hanya mampu berkata,
“Goblog!”
“Bodoh!”
“Omon-omon!”
Tanpa data, tanpa nalar, tanpa bukti—
yang terlihat jelas bukan kebodohan orang yang dihina.
Melainkan keterbatasan akal orang yang menghina.
Editor:Red/WP
















