

Tantangan terbesar masih berada pada ketergantungan terhadap pasokan luar negeri. Berdasarkan data Kementerian Pertanian yang disampaikan dalam webinar, lebih dari 90 persen kebutuhan bawang putih nasional masih berasal dari impor.
Pupuk Indonesia menyebut pemupukan berimbang dapat membantu tanaman melewati fase pertumbuhan hingga pembentukan dan pembesaran umbi. Unsur nitrogen, fosfor, kalium, dan sulfur memiliki fungsi yang berbeda dalam mendukung produktivitas serta kualitas bawang putih.
Pupuk Indonesia juga tengah membangun fasilitas produksi NPK berbasis nitrat dengan kapasitas 100.000 ton per tahun. Pabrik tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dan diharapkan menambah dukungan pupuk untuk kebutuhan pertanian nasional.
Direktur Pembenihan Hortikultura Kementerian Pertanian Muhammad Agung Sanusi mengatakan Indonesia pernah mencapai swasembada bawang putih pada era 1990-an. Produksi nasional bahkan mencapai 152.421 ton pada 1995.
Namun, kebutuhan nasional kini jauh lebih besar. Pada 2025, kebutuhan bawang putih mencapai 626.950 ton, sementara 525.640 ton di antaranya masih dipenuhi melalui impor.
Pengembangan lahan juga dilakukan secara bertahap. Pada 2026, pemerintah menargetkan pengembangan bawang putih seluas 5.000 hektare. Luas tersebut direncanakan meningkat menjadi 20.000 hektare pada 2027, 80.000 hektare pada 2028, dan 120.000 hektare pada 2029.
Agung menekankan peningkatan produksi tidak cukup hanya dengan memperluas lahan. Penggunaan teknologi dan benih berkualitas juga diperlukan untuk mendorong produktivitas.
“Kami berharap teknologi dan benih bermutu dapat meningkatkan produktivitas bawang putih,” ujar Agung.
Bagi petani, pupuk bersubsidi menjadi salah satu instrumen untuk membantu menekan biaya produksi. Bawang putih termasuk komoditas yang memperoleh alokasi pupuk bersubsidi dengan ketentuan penerima, termasuk terdaftar dalam e-RDKK dan mengikuti mekanisme penebusan yang berlaku.
(John/Red WP)

















