banner 728x250

Selamat Jalan Guruh Soekarnoputra, Sang Maestro Penjaga Jiwa Seni Nusantar

banner 120x600
banner 468x60

Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati, berpulang pada Sabtu, 26 September 2026, dalam usia 73 tahun.

banner 325x300

Guruh mengembuskan napas terakhir pada pukul 04.16 WIB di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta. Kabar kepergiannya meninggalkan duka mendalam, terutama bagi keluarga, para seniman, kader PDI Perjuangan, serta masyarakat yang mengenal karya-karyanya.

Sebelum meninggal dunia, kondisi kesehatan Guruh dilaporkan menurun.

Dalam perjalanan hidupnya, ia dikenal bukan semata sebagai putra Bung Karno, tetapi sebagai seniman yang membangun namanya sendiri melalui musik, tari, koreografi, dan seni pertunjukan.

Guruh memilih seni sebagai salah satu jalan untuk menerjemahkan kecintaannya kepada Indonesia.

Dimakamkan di Samping Pusara Fatmawati

Jenazah Guruh dimakamkan pada Sabtu siang di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Sesuai keputusan keluarga, ia dikebumikan di samping pusara ibundanya, Fatmawati Soekarno.

Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman. Megawati Soekarnoputri, kakak kandung Guruh sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, turut mengantarkan adiknya ke tempat peristirahatan terakhir. Sejumlah tokoh juga hadir dalam prosesi tersebut.

Bagi keluarga, pemakaman itu bukan sekadar melepas seorang adik dan putra tercinta. Di tempat itu pula Guruh kembali mendekat kepada sosok yang membesarkannya, Fatmawati.

Sebuah perjalanan panjang seolah menemukan titik akhirnya di sisi sang ibu.

Setengah Tiang untuk Sang Pejuang Partai

Selain dikenal sebagai seniman, Guruh merupakan tokoh yang cukup lama berada dalam perjalanan politik PDI hingga PDI Perjuangan.

Baca Juga  KPK Tangkap Penyelenggara Negara dan Pihak Swata Terkait Kasus Suap di Labuhanbatu Sumut

Ia pernah menjadi anggota DPR melalui PDI dan kemudian kembali duduk di parlemen sebagai anggota Fraksi PDI Perjuangan.

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyebut keluarga besar partai kehilangan sosok yang memiliki jejak panjang dalam perjuangan politik sekaligus kebudayaan.

Guruh juga meninggalkan karya yang berkaitan erat dengan perjalanan partai, termasuk penciptaan karya musik untuk PDI Perjuangan.

Sebagai bentuk penghormatan, PDI Perjuangan mengibarkan bendera partai setengah tiang selama tujuh hari di seluruh kantor kepengurusan partai di Indonesia.

Menepi dari Badai Politik, Abadi Lewat Karya Seni

Lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953, Guruh tumbuh dalam keluarga yang berada di pusat sejarah perjalanan bangsa. Namun, ia menemukan ruang ekspresinya sendiri melalui dunia seni.

Sejak muda, Guruh menekuni tari dan musik. Pada 1965, ia membentuk kelompok musik The Beat G. Eksplorasinya kemudian berkembang hingga lahirnya Guruh Gipsy pada dekade 1970-an, sebuah proyek musik yang memadukan musik modern dengan unsur gamelan Bali.

Guruh juga membangun Gank Pegangsaan bersama sejumlah musisi penting, termasuk Chrisye, Keenan Nasution, Abadi Soesman dan Roni Harahap.

Eksperimen tersebut menunjukkan satu hal yang konsisten dalam perjalanan Guruh: kecintaannya pada Indonesia tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi dituangkan melalui bunyi, gerak, panggung, dan karya seni.

Swara Maharddhika dan Warisan Seni Pertunjukan

Pada 27 Maret 1977, Guruh mendirikan Swara Maharddhika sebagai ruang bagi kreativitas generasi muda di bidang seni. Kelompok tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu wadah penting dalam perjalanan seni pertunjukan Indonesia.

Melalui berbagai pertunjukan, Guruh mempertemukan musik, tari, koreografi, tata panggung, serta unsur tradisi Nusantara dalam pertunjukan berskala besar.

Di antara karya pertunjukan yang dikenal dalam perjalanan kariernya adalah Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra I, Untukmu Indonesiaku, serta berbagai pertunjukan lain yang memperlihatkan konsistensinya membawa identitas budaya Indonesia ke panggung modern.

Karya-karyanya juga melintasi dunia perfilman. Guruh tercatat terlibat sebagai penata musik dalam sejumlah film Indonesia, antara lain Ali Topan Anak Jalanan, Gita Cinta dari SMA, dan Puspa Indah Taman Hati.
Ketika Sang Maestro Berpulang

Kepergian Guruh menutup satu babak perjalanan panjang seorang seniman yang tumbuh di tengah keluarga besar sejarah Indonesia, tetapi memilih meninggalkan jejaknya melalui karya.

Ia memang pernah berada di panggung politik. Namun, bagi banyak orang, nama Guruh akan selalu lebih dahulu dikenang melalui seni-melalui musik, tari, pertunjukan, dan keberaniannya mempertemukan tradisi Nusantara dengan ekspresi modern.

Dari lima anak Soekarno dan Fatmawati, Guruh merupakan anak terakhir yang berpulang. Setelah kepergiannya, tiga anak pasangan tersebut yang masih hidup adalah Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, dan Sukmawati Soekarnoputri.

Kini, panggung telah selesai. Musik telah berhenti dimainkan.

Namun karya seorang seniman tidak ikut dikuburkan.

Ia tetap hidup dalam ingatan, dalam nada yang pernah dinyanyikan, dalam gerak tari yang pernah dipentaskan, dan dalam kecintaan pada kebudayaan Indonesia yang sepanjang hidupnya diperjuangkan Guruh Soekarnoputra.

Indonesia hari ini tidak hanya kehilangan putra bungsu Bung Karno.

Indonesia kehilangan seorang seniman yang memilih menjadikan kebudayaan sebagai cara untuk mencintai tanah air.

(Redaksi/WP)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *