Dari Gerakan ke Berbagai Ruang Pengabdian, Semangat Aktivis Tetap Terjaga
JAKARTA|WARTAPAPER.COM-Wajah-wajah yang pernah berjumpa di ruang diskusi, jalan-jalan aksi dan berbagai konsolidasi gerakan kembali berada dalam satu ruang setelah perjalanan panjang. Rambut yang memutih dan perubahan jalan hidup tak menghapus ikatan yang terbentuk dari satu rumah gerakan: Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan (HUMANIKA).
Memasuki usia ke-36 tahun, HUMANIKA mempertemukan aktivis lintas generasi dalam reuni akbar dan silaturahmi bertajuk “Solidaritas, Sinergi dan Kolaborasi”. Pertemuan ini menjadi momentum memperkuat jejaring sekaligus membangun kembali komunikasi antargenerasi yang telah tersebar di berbagai ruang pengabdian.
Menurut Bursah, kekuatan HUMANIKA juga tercermin dari jejaring alumninya yang kini berada di berbagai sektor strategis.
“Malam ini adalah momentum berharga. Kita berkumpul untuk memperkuat sinergi. Potensi alumni Humanika sangat besar karena tersebar di berbagai sektor strategis, baik di eksekutif, legislatif, akademisi, hingga profesional. Kolaborasi ini harus terus dirawat untuk memberikan kontribusi nyata bagi bangsa,” ujar Bursah di hadapan para kader dan alumni. Jumat (18/9/2026).

Dari Gerakan ke Ruang Pengabdian
Pemutaran video perjalanan HUMANIKA sejak 1990 hingga kini menjadi salah satu bagian kegiatan. Dokumentasi tersebut memperlihatkan perkembangan organisasi dari Jakarta hingga menjangkau sejumlah wilayah di Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Indonesia Timur.
Perjalanan itu turut membentuk jejaring alumni yang kini bergerak di berbagai bidang. Sebagian berkiprah di pemerintahan dan lembaga negara, sementara lainnya menjalani profesi di bidang politik, akademisi, organisasi pekerja maupun sektor profesional.
Ketua panitia, Syaiful Jihad, menyampaikan apresiasi kepada para tokoh, senior, pengurus dan anggota HUMANIKA yang hadir dari berbagai penjuru Indonesia.
Menurutnya, pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali hubungan antargenerasi sekaligus menjaga keberlanjutan jaringan HUMANIKA.
Sejumlah tokoh nasional dan aktivis senior turut hadir, di antaranya tokoh Malari Hariman Siregar, Ketua Umum KSPSI Jumhur Hidayat, Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari, Ketua Majelis Prodem Iwan Sumule, anggota DPR RI Fauzi Amro, anggota Bawaslu RI Puadi, serta Ketua Umum Partai Prima Agus Jabo Priyono.
Kehadiran tokoh dari latar belakang yang beragam menunjukkan luasnya jejaring alumni HUMANIKA sekaligus membuka ruang pertukaran gagasan mengenai persoalan publik.
Melalui tema “Solidaritas, Sinergi dan Kolaborasi”, pertemuan tersebut juga menegaskan komitmen untuk menjaga sikap kritis dan solutif dalam mengawal agenda kerakyatan serta demokrasi.
Menjaga Spirit Aktivis Sepanjang MasaMenurut Marlin, meskipun backbone HUMANIKA berakar dari Kelompok Cipayung di wilayah Jabodetabek, dalam praktiknya organisasi tersebut berkembang menjadi ruang bersama bagi aktivis dari beragam latar belakang.
Ia juga menyoroti peran Bursah Zarnubi yang sejak usia muda dinilainya memiliki keterbukaan pemikiran dan kepedulian terhadap sesama aktivis.
Antusiasme peserta menjadi salah satu gambaran kuatnya jejaring tersebut. Meski kegiatan tidak diumumkan secara terbuka, sekitar 800 aktivis dari berbagai daerah dan latar belakang disebut hadir dalam pertemuan itu.
Dalam perjalanan acara, sempat terjadi insiden kecil ketika pendingin ruangan di lokasi kegiatan dimatikan menjelang acara berakhir. Situasi tersebut sempat memicu reaksi peserta, tetapi dapat segera diselesaikan tanpa menimbulkan persoalan lebih lanjut.
Pengelola restoran kemudian menyampaikan permintaan maaf secara terbuka di hadapan peserta.
Di luar insiden tersebut, pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh interaksi antarpeserta. Diskusi mengenai perjalanan gerakan berkelindan dengan pembicaraan mengenai posisi dan tanggung jawab aktivis ketika memasuki ruang pengabdian yang berbeda.
Bagi Marlin, perjuangan untuk kemanusiaan dan keadilan merupakan proses yang tidak pernah selesai. Karena itu, semangat aktivisme perlu tetap dijaga meskipun seseorang telah berada di lingkungan atau institusi yang berbeda.
Pesan tersebut sejalan dengan pernyataan Hariman Siregar yang mengingatkan pentingnya para aktivis tetap memperjuangkan kepentingan masyarakat, khususnya kelompok yang lemah, di mana pun mereka menjalankan pengabdiannya.
Karena itu, ekosistem dan spirit perjuangan menjadi bagian penting yang perlu terus dirawat agar jejaring HUMANIKA tetap memiliki ruang untuk berkontribusi terhadap persoalan bangsa.
Memasuki usia ke-36, HUMANIKA membawa semangat solidaritas, sinergi dan kolaborasi sebagai pijakan untuk memperkuat hubungan antargenerasi dan memperluas kontribusi alumni di ruang pengabdian masing-masing.
“Aktivis Sepanjang Masa” pun menegaskan bahwa perubahan ruang pengabdian tidak harus memutus nilai-nilai yang menjadi dasar perjalanan gerakan.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan ramah tamah. Para aktivis lintas generasi kemudian melanjutkan perjalanan masing-masing dengan jejaring yang kembali terhubung dan semangat untuk terus memberi kontribusi bagi kemanusiaan, keadilan dan kehidupan demokrasi di Indonesia.
(John/Red WP)


















