Menurut keterangan keluarga, perjalanan pengobatan pasien dimulai di RS Martha Friska, tempat ia menjalani perawatan selama sembilan hari. Pasien kemudian dirujuk ke RS Pringadi Medan. Namun, menurut keluarga, pihak rumah sakit menyatakan belum sanggup menangani kondisinya sehingga pasien kembali dirujuk ke RSUP H. Adam Malik Medan.
Di RSUP H. Adam Malik, pasien disebut menjalani perawatan selama kurang lebih sepuluh hari. Sebelum dipulangkan, sampel diambil untuk pemeriksaan laboratorium. Keluarga berharap hasil pemeriksaan tersebut dapat memberikan kepastian mengenai penyakit yang dialami pasien dan menjadi dasar penentuan pengobatan.
Namun, keluarga mengaku belum memperoleh penjelasan yang memadai mengenai hasil pemeriksaan tersebut. Ketidakpastian ini menambah kecemasan, terlebih kondisi mata pasien disebut terus memburuk.
Keluarga juga menceritakan kejadian pada 14 Oktober 2026. Menurut pengakuan suami pasien, ia mendapat informasi dari dokter onkologi berinisial dr. C agar datang ke rumah sakit karena hasil pemeriksaan disebut sudah tersedia. Ia kemudian berangkat ke rumah sakit. Namun, saat berada di lokasi, ia mengaku mendapat kabar bahwa hasil pemeriksaan ternyata belum tersedia sehingga kedatangannya tidak perlu dilanjutkan.
Keluarga berharap memperoleh penjelasan yang jelas mengenai status hasil biopsi, kepastian waktu keluarnya hasil, serta langkah medis yang harus ditempuh selanjutnya. Bagi mereka, kepastian tersebut sangat penting agar pasien tidak terus berada dalam penantian tanpa memahami kondisi kesehatan dan rencana pengobatannya.
Di tengah kondisi tersebut, biaya transportasi dan kebutuhan selama berulang kali mencari pengobatan semakin membebani keluarga. Mereka berharap ada bantuan dan koordinasi agar pasien memperoleh penanganan sesuai kebutuhan medisnya.
Keluarga menyatakan telah menyampaikan pengaduan kepada Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara pada 30 September 2026 terkait pelayanan yang mereka keluhkan. Mereka berharap pengaduan tersebut memperoleh tindak lanjut dan membantu membuka jalan bagi penyelesaian persoalan yang dihadapi.
Bagi keluarga, yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar informasi administratif, melainkan kepastian hasil pemeriksaan, penjelasan medis yang dapat dipahami, dan rencana pengobatan yang jelas. Jika diperlukan pemeriksaan lanjutan atau rujukan ke fasilitas lain, keluarga berharap koordinasi dapat dilakukan agar pasien tidak kehilangan waktu untuk mendapatkan pertolongan.
Hampir empat bulan adalah waktu yang berat bagi pasien dan keluarganya. Di balik penantian hasil pemeriksaan, ada seorang pasien yang membutuhkan pertolongan dan keluarga yang terus berjuang di tengah keterbatasan biaya.
Pemberitaan ini disusun berdasarkan keterangan narasumber dan mengedepankan prinsip keberimbangan. Redaksi terbuka terhadap klarifikasi dan informasi dari seluruh pihak terkait.
(Redaksi/WP)
Peserta BPJS Di Medan Menderita Hampir 4 Bulan, Hasil Biopsi Masih Dinantikan

SUMATERA UTARA- MEDAN|WARTAPAPER.COM – Hampir empat bulan menahan derita, kondisi mata seorang peserta BPJS Kesehatan di Medan disebut semakin memburuk. Di tengah kecemasan dan keterbatasan biaya, keluarga masih menanti kejelasan hasil pemeriksaan sampel jaringan atau biopsi yang diharapkan menjadi petunjuk penanganan selanjutnya.
Rekomendasi untuk kamu

SUMATERA -UTARA-MEDAN|WARTAPAPER.COM– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan menggelar sosialisasi dan simulasi penanggulangan bencana…

SUMATERA UTARA-MEDAN|WARTAPAPER.COM – Pemerintah Kecamatan Medan Tuntungan mulai mematangkan persiapan perayaan Natal Oikumene 2026 melalui…

SUMATERA UTARA-MEDAN|WARTAPAPER.COM – Kecamatan Medan Kota menggelar musyawarah kelurahan terkait Program Keluarga Harapan (PKH) Makmur,…

Berita Iklan JAKARTA|WARTAPAPER.COM-Penggabungan ikan gabus (Channa striata) dan gamat emas (Stichopus hermanii) merupakan salah satu…













