

Konsistensi dan ketulusannya sudah dirasakan langsung oleh warga. Ia selalu ada saat dibutuhkan — mengantar warga sakit ke Puskesmas, mengurus rujukan ke rumah sakit, menunggu pasien hingga larut malam, hingga memastikan keluarga pasien tidak merasa berjuang sendirian.
Bagi pemuda tersebut, apa yang dilakukannya bukanlah sekadar aktivitas sosial, melainkan panggilan hati.
“Saya tidak melihat ini sebagai pekerjaan. Ini adalah bagian dari iman, ini adalah sedekah, dan ini adalah jiwa sosial yang dalam. Selagi saya masih bisa berdiri tegak, saya akan tetap mendampingi masyarakat,” ucapnya dengan lugas Rabu (23/09/2026).
Ia juga menegaskan prinsipnya dalam membantu sesama. Ia tidak pernah memilah dan memilih latar belakang orang yang dibantu.
“Kita tidak memandang suku, ras, dan jabatan. Akan tetapi bagaimana keberadaan kita ini bisa bermanfaat buat banyak orang,” ujarnya.
“Apapun suku, agama, ras anda, mari kita sesama anak bangsa tetap berdiri tegak untuk membangun negeri. Dan bekerjalah dengan ikhlas, dan dengan kata Lillahi Ta’ala,” tutupnya.
Apa yang ia lakukan mungkin terlihat sederhana, namun memiliki makna yang sangat besar bagi warga kecil di pelosok. Kehadirannya memberi harapan dan kekuatan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi masa sulit.
Tanpa pamrih dan tanpa mengharap balasan, ia mengajarkan kepada kita bahwa arti pemuda sesungguhnya bukan soal usia, melainkan soal kebermanfaatan. Dan iman yang paling hidup adalah iman yang bergerak untuk membantu sesama.


















