Sosok perempuan tangguh ini menyita perhatian publik usai membagikan kisah perjuangannya melakoni dua pekerjaan sekaligus dalam sehari demi menopang kestabilan ekonomi keluarga.
Jerih payahnya mengolah kain tersebut diupah sebesar Rp700 untuk tiap kilogram yang berhasil dikerjakan.
Setiap hari ia sanggup menggarap sekitar 20 kilogram kain majun dengan pendapatan bersih berada di kisaran Rp14.000.
Kapasitas pengerjaan kain tersebut biasanya meningkat hingga menembus 50 kilogram sewaktu hari libur tiba bersama rekan sesama ibu rumah tangga.
“Jam 7 (pagi) menjahit sampai siang,” ujar Susanah dalam wawancara dengan Badan Komunikasi Pemerintah RI.
Selepas tengah hari sekitar pukul 13.00 WIB Susanah langsung bergegas beralih profesi menuju fasilitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.
Tugas menguras tenaga sebagai pencuci ompreng di dapur Program Makan Bergizi Gratis dijalaninya demi menambah pundi-pundi rupiah.
Keputusan bekerja ganda diambil lantaran sang suami yang berprofesi buruh bangunan sering tidak memiliki penghasilan pasti akibat ketiadaan proyek hingga bertinggu-minggu.
Dorongan ekonomi tak menyurutkan tekad Susanah bersama suaminya untuk terus memprioritaskan pendidikan seluruh buah hatinya agar tak bernasib sama seperti dirinya.
Ia meyakini kelengkapan ijazah sekolah menjadi kunci utama bagi masa depan anak-anaknya dalam memperolehan pekerjaan yang lebih layak.
“Sekolah pokoknya penting buat anak. Dari mana jalannya, meskipun utang-utang, tetap sekolah. Biar dapat ijazah, biar enak ngelamar kerjanya,” tuturnya.
Keluarga Susanah sendiri tercatat aktif menerima kucuran Bantuan Pangan Non-Tunai serta Program Keluarga Harapan guna menopang belanja rumah tangga.
Kehadiran dapur MBG diakuinya memberi peluang kerja nyata yang berdampak langsung pada kelangsungan finansial harian.
“Dampaknya sih alhamdulillah ya, ekonomi jadi kebantu,” kata Susanah.
Selain itu ketiga anaknya turut memperoleh akses bantuan pendidikan melalui skema Program Indonesia Pintar.
Meski harus memeras keringat saban hari Susanah menyimpan asa besar untuk membangun usaha peternakan ayam mandiri tanpa perlu bergantung pada majikan.
“Kalau ekonomi membaik ya penginnya punya usaha sendiri, enggak dari orang. Kan ini semua punya bos,” ujarnya


















