banner 728x250

Mengapa Negara Kaya membeli Tanah Pertanian di Negara lain

banner 120x600
banner 468x60

Ketika negara kaya membeli atau menguasai lahan pertanian di negara lain, persoalannya tidak lagi sederhana sebagai transaksi bisnis. Di balik investasi tersebut terdapat kepentingan pangan, air, energi, rantai pasok, hingga strategi ekonomi jangka panjang.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Gelombang besar investasi lahan pertanian lintas negara menguat setelah krisis pangan, energi dan keuangan global 2007 sampai 2008. Ketika harga pangan dunia melonjak dan sejumlah negara mulai membatasi ekspor bahan pangan, lahan pertanian berubah menjadi aset strategis yang nilainya tidak hanya dihitung berdasarkan harga tanah.

banner 325x300

Bank Dunia mencatat bahwa pada 2009 saja terdapat sekitar 45 juta hektare transaksi lahan pertanian berskala besar yang dilaporkan. Angka tersebut jauh di atas rata rata ekspansi lahan pertanian global sekitar 4 juta hektare per tahun pada dekade sebelum 2008. Salah satu pemicunya adalah ketidakpastian harga pangan dan kekhawatiran negara terhadap keamanan pasokan.

๐๐ž๐ ๐š๐ซ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ค๐ž๐ค๐ฎ๐ซ๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐ฅ๐š๐ก๐š๐ง ๐ฆ๐ž๐ง๐œ๐š๐ซ๐ข ๐ฅ๐š๐ก๐š๐ง ๐๐ข ๐ฅ๐ฎ๐š๐ซ ๐ง๐ž๐ ๐ž๐ซ๐ข

Ada negara yang memiliki uang, teknologi dan kebutuhan pangan tinggi, tetapi tidak mempunyai lahan pertanian yang cukup.

Negara negara di kawasan Teluk menjadi contoh yang sering dibahas. Kondisi geografis yang didominasi gurun membuat produksi pangan domestik menghadapi keterbatasan air dan lahan. Karena itu, investasi pertanian di luar negeri dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas akses terhadap sumber pangan dan pakan.

Dalam model seperti ini, lahan di negara lain dapat digunakan untuk memproduksi gandum, pakan ternak, beras, jagung, kedelai maupun komoditas lainnya. Hasil produksi kemudian masuk ke jaringan perdagangan internasional dan sebagian dapat diarahkan kembali ke pasar negara investor.

Fenomena serupa juga terlihat dalam kajian mengenai investasi lahan pertanian luar negeri China. Penelitian yang menggunakan data Land Matrix menunjukkan bahwa investasi lahan pertanian China di luar negeri antara lain berkaitan dengan strategi memanfaatkan sumber daya lahan untuk mengurangi tekanan terhadap kebutuhan pangan domestik.

Namun penting untuk membedakan antara investasi pertanian luar negeri dengan anggapan bahwa suatu negara secara sederhana membeli tanah negara lain. Banyak transaksi dilakukan melalui sewa jangka panjang, perusahaan patungan, konsesi, kepemilikan perusahaan atau bentuk investasi lainnya. Struktur hukum dan kepemilikannya bisa sangat berbeda dari satu negara ke negara lain.

๐‹๐š๐ก๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ญ๐š๐ง๐ข๐š๐ง ๐ฆ๐ฎ๐ฅ๐š๐ข ๐๐ข๐ฉ๐ž๐ซ๐ฅ๐š๐ค๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐ฌ๐ž๐ฉ๐ž๐ซ๐ญ๐ข ๐š๐ฌ๐ž๐ญ ๐ฌ๐ญ๐ซ๐š๐ญ๐ž๐ ๐ข๐ฌ

Ada alasan lain yang membuat lahan pertanian semakin menarik. Tanah produktif tidak dapat diproduksi seperti mesin baru.

FAO dalam laporan terbarunya mengenai sumber daya lahan dan air menempatkan tanah dan air sebagai fondasi produksi pertanian serta ketahanan pangan. Pada saat yang sama, tekanan terhadap kedua sumber daya tersebut semakin besar akibat degradasi lahan, kelangkaan air dan perubahan iklim. FAO mencatat bahwa lebih dari 60 persen degradasi lahan akibat aktivitas manusia terjadi pada lahan pertanian, sementara sektor pertanian menggunakan lebih dari 70 persen pengambilan air tawar global.

Karena itu, penguasaan akses terhadap lahan produktif dan air dapat memiliki nilai strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar nilai jual tanah.

Investor juga tidak hanya melihat tanah kosong. Mereka mencari lokasi yang memiliki sumber air, infrastruktur irigasi, akses pelabuhan, jalan, gudang, tenaga kerja dan kedekatan dengan pasar.

Di titik ini, investasi lahan pertanian mulai bersinggungan dengan pembangunan infrastruktur. Sebuah kawasan pertanian yang terhubung dengan pelabuhan dan jaringan logistik dapat menjadi bagian dari rantai pasok pangan lintas negara.

๐ƒ๐š๐ซ๐ข ๐ฉ๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐ฌ๐š๐ฆ๐ฉ๐š๐ข ๐ฉ๐š๐ค๐š๐ง ๐ญ๐ž๐ซ๐ง๐š๐ค

Tidak semua lahan yang dikuasai investor asing digunakan untuk menghasilkan makanan yang langsung dikonsumsi manusia.

Sebagian digunakan untuk tanaman pakan ternak, bahan baku industri, biofuel atau komoditas ekspor.

Fenomena ini penting karena istilah ketahanan pangan sering digunakan dalam berbagai konteks. Sebuah proyek pertanian bisa meningkatkan produksi dan ekspor negara tempat investasi berlangsung, tetapi hasil produksinya belum tentu masuk ke pasar pangan lokal.

Kajian yang diterbitkan dalam jurnal World Development mengenai akuisisi lahan pertanian berskala besar di Afrika bahkan menemukan bahwa transaksi semacam itu hanya berpotensi menjawab kebutuhan ketahanan pangan prioritas di 7 dari 38 negara Afrika yang diteliti. Penelitian tersebut juga menemukan risiko konflik lahan atau deforestasi pada 83 persen area yang diakuisisi dalam sampel penelitian.

Artinya, investasi asing tidak otomatis identik dengan ketahanan pangan masyarakat lokal.

๐๐ž๐ ๐š๐ซ๐š ๐ค๐š๐ฒ๐š ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐ž๐ฅ๐ข ๐š๐ค๐ฌ๐ž๐ฌ, ๐›๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐ก๐š๐ง๐ฒ๐š ๐ญ๐š๐ง๐š๐ก

Ada dimensi lain yang sering luput dari pembicaraan, yaitu akses.

Akses terhadap lahan berarti akses terhadap produksi. Akses terhadap produksi berarti akses terhadap komoditas. Jika investasi tersebut terhubung dengan pelabuhan, perusahaan logistik, gudang dan jaringan perdagangan, maka investor memperoleh posisi yang lebih kuat dalam rantai pasok.

Contoh perkembangan terbaru di Afrika menunjukkan bagaimana investasi negara negara Teluk semakin melebar ke sektor pelabuhan, energi, pertanian dan pertambangan. Financial Times melaporkan bahwa investasi Uni Emirat Arab di Afrika mencakup berbagai sektor strategis dan pertanian menjadi salah satu bagian dari ekspansi tersebut.

Kasus Sudan juga memperlihatkan bagaimana proyek pertanian dapat berkaitan dengan infrastruktur logistik. Sebelum perang pecah, terdapat rencana investasi besar yang menghubungkan kawasan pertanian di sepanjang Sungai Nil dengan proyek pelabuhan dan jaringan transportasi. Konflik kemudian mengubah banyak rencana tersebut.

Hubungan antara pertanian dan geopolitik menjadi semakin jelas ketika lahan produksi berada dekat jalur perdagangan strategis.

๐Š๐ซ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ ๐ข๐ค๐ฅ๐ข๐ฆ ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐ฎ๐š๐ญ ๐ฅ๐š๐ก๐š๐ง ๐ฌ๐ฎ๐›๐ฎ๐ซ ๐ฌ๐ž๐ฆ๐š๐ค๐ข๐ง ๐ฆ๐š๐ก๐š๐ฅ

Perubahan iklim menambah alasan lain.

Wilayah yang hari ini produktif belum tentu memiliki produktivitas yang sama beberapa dekade mendatang. Kekeringan, perubahan pola hujan, degradasi tanah, kenaikan suhu dan keterbatasan air dapat mengubah peta produksi pangan dunia.

FAO memperingatkan bahwa tekanan terhadap sumber daya tanah dan air akan semakin berat ketika permintaan pangan meningkat.

Dalam situasi tersebut, memiliki akses terhadap beberapa wilayah produksi sekaligus dapat menjadi bentuk diversifikasi risiko. Jika produksi gagal di satu kawasan akibat kekeringan atau gangguan iklim, sumber pasokan dari wilayah lain masih tersedia.

Logikanya mirip dengan diversifikasi investasi keuangan, tetapi aset yang dipertaruhkan adalah sumber pangan dan sumber daya alam.

๐Œ๐š๐ฌ๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฆ๐ฎ๐ง๐œ๐ฎ๐ฅ ๐ค๐ž๐ญ๐ข๐ค๐š ๐ฆ๐š๐ฌ๐ฒ๐š๐ซ๐š๐ค๐š๐ญ ๐ฅ๐จ๐ค๐š๐ฅ ๐ค๐ž๐ก๐ข๐ฅ๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐ค๐ž๐ง๐๐š๐ฅ๐ข

Investasi pertanian dalam skala besar tidak selalu buruk. Modal asing dapat membawa teknologi, irigasi, benih, mekanisasi, pengolahan pascapanen, akses pasar dan lapangan kerja.

Bank Dunia juga mengakui bahwa pertanian berskala besar dapat memberikan manfaat ekonomi jika dilakukan dengan perlindungan terhadap hak masyarakat lokal dan melibatkan petani kecil.

Persoalannya muncul ketika transaksi lahan berlangsung dalam sistem kepemilikan yang tidak jelas, proses perizinan tidak transparan atau masyarakat lokal tidak memiliki posisi tawar yang cukup.

Bank Dunia sejak lama mengingatkan bahwa negara dengan sistem pengakuan hak atas tanah yang lemah dapat menjadi sasaran investasi lahan yang besar. Lemahnya transparansi, pemeriksaan investasi dan perlindungan hak masyarakat dapat meningkatkan risiko konflik serta kehilangan akses terhadap tanah.

FAO dan sejumlah lembaga internasional juga telah lama menyoroti persoalan hak tenurial dalam investasi pertanian lintas negara. Dalam kajian mengenai investasi lahan internasional, perhatian utama diarahkan pada bagaimana transaksi tersebut memengaruhi akses masyarakat lokal terhadap sumber penghidupan.

Karena itu, ukuran keberhasilan investasi lahan tidak cukup hanya dilihat dari berapa banyak modal yang masuk atau berapa ton hasil pertanian yang diproduksi.

Pertanyaan yang lebih sensitif berada pada siapa yang menguasai lahan, siapa yang memperoleh keuntungan, ke mana hasil produksinya dijual, siapa yang mendapatkan akses terhadap air, bagaimana posisi petani lokal dan berapa lama masyarakat setempat tetap memiliki akses terhadap sumber daya tersebut.

๐Š๐ž๐ญ๐ข๐ค๐š ๐ฅ๐š๐ก๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ญ๐š๐ง๐ข๐š๐ง ๐›๐ž๐ซ๐ฎ๐›๐š๐ก ๐ฆ๐ž๐ง๐ฃ๐š๐๐ข ๐ข๐ง๐ฌ๐ญ๐ซ๐ฎ๐ฆ๐ž๐ง ๐ ๐ž๐จ๐ฉ๐จ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ค

Dalam perdagangan global, negara yang menguasai produksi belum tentu sama dengan negara yang memiliki lahan produksi.

Sebuah negara dapat mengamankan pasokan pangan melalui kombinasi produksi domestik, impor, kontrak perdagangan dan investasi pertanian di luar negeri. Strategi tersebut membuat ketahanan pangan tidak lagi hanya ditentukan oleh luas sawah atau kebun di dalam batas wilayah nasional.

Inilah alasan mengapa lahan pertanian semakin menarik bagi negara dan perusahaan besar. Nilainya tidak berhenti pada harga tanah per hektare. Ada air, pangan, pakan ternak, energi, logistik, pasar dan kemampuan mengendalikan sebagian rantai pasok yang ikut melekat di dalamnya.

Bagi negara pemilik lahan, investasi asing dapat menjadi sumber modal dan teknologi. Tetapi bagi pemerintah, persoalan yang harus dihitung jauh lebih panjang daripada nilai investasi yang masuk. Kontrak lahan jangka panjang, hak masyarakat, penggunaan air, jenis komoditas, kewajiban ekspor, perpajakan dan dampak lingkungan ikut menentukan siapa yang benar benar memperoleh manfaat dari sebuah transaksi.

Pada akhirnya, perebutan lahan pertanian global tidak selalu terlihat seperti perebutan. Ia bisa hadir dalam bentuk investasi, perusahaan patungan, sewa lahan, pembangunan perkebunan, kontrak produksi, pembiayaan infrastruktur atau kepemilikan perusahaan.

Dan di tengah dunia yang menghadapi tekanan pangan, perubahan iklim serta keterbatasan tanah dan air, satu hektare lahan produktif bisa memiliki arti ekonomi yang jauh lebih besar daripada sekadar sebidang tanah.

Referensi:

World Bank, Land and Food Security
World Bank, New World Bank Report Sees Growing Global Demand for Farmland
FAO, The State of the World’s Land and Water Resources for Food and Agriculture 2025
FAO, IFAD dan IIED, Land Grab or Development Opportunity?
FAO, Land Tenure and International Investments in Agriculture
World Development, Agricultural land acquisitions unlikely to address the food security needs of African countries
FAO AGRIS, Spatial distribution and influencing factors of Chinaโ€™s overseas farmland investment projects

John Panjaitan/WP

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *