Program ini merupakan upaya meningkatkan kompetensi, profesionalisme, dan daya saing tenaga kerja konstruksi agar mampu memenuhi kebutuhan pembangunan nasional hingga membuka peluang kerja di luar negeri.
Yuliansyah menjelaskan, kegiatan tersebut menjadi wujud komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor konstruksi. Menurutnya, pesatnya pembangunan infrastruktur di Indonesia membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya berpengalaman, tetapi juga memiliki kompetensi yang diakui melalui sertifikasi resmi.
Ia menegaskan, sertifikasi kompetensi kini menjadi salah satu syarat penting dalam industri jasa konstruksi. Banyak perusahaan maupun kontraktor lebih mengutamakan tenaga kerja yang telah memiliki sertifikat kompetensi sesuai standar yang berlaku.
“Tenaga kerja yang sudah bersertifikat tentu memiliki nilai tambah. Sertifikasi ini menjadi salah satu persyaratan yang banyak dibutuhkan perusahaan konstruksi ketika merekrut pekerja untuk mengerjakan berbagai proyek, termasuk proyek pemerintah yang bersumber dari APBN,” jelasnya.
Selain meningkatkan peluang bekerja pada proyek-proyek nasional, Yuliansyah menilai sertifikasi juga membuka kesempatan lebih luas bagi tenaga kerja Indonesia untuk menembus pasar kerja internasional.
“Dengan sertifikat kompetensi, peluang bekerja di luar negeri juga semakin terbuka. Kami bahkan telah berdiskusi mengenai potensi kerja sama dengan berbagai pihak agar tenaga kerja konstruksi asal Kalimantan Barat memiliki kesempatan bekerja di luar negeri, tentunya dengan memenuhi standar kompetensi dan pengalaman yang dibutuhkan,” katanya
Menanggapi kemungkinan masih adanya tenaga kerja bersertifikat yang belum menerapkan standar keselamatan kerja di lapangan, Yuliansyah optimistis materi yang diberikan selama pelatihan mampu meningkatkan kesadaran peserta untuk selalu mengutamakan aspek keselamatan dalam setiap pekerjaan.
Ia berharap program pendidikan, pelatihan, dan sertifikasi tenaga kerja konstruksi dapat terus diperluas sehingga semakin banyak tenaga kerja di Kalimantan Barat yang memiliki kompetensi bersertifikat, berdaya saing tinggi, serta mampu berkontribusi dalam pembangunan nasional maupun bersaing di pasar kerja internasional.
(John Panjaitan/WP


















