WARTAPAPER.COM- Setiap pasangan suami istri tentu mendambakan keturunan yang baik. Harapan tersebut bukan sekadar keinginan untuk memiliki anak, tetapi juga doa agar anak yang dilahirkan tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak, dan bermanfaat bagi sesama. Namun, kesalehan seorang anak pada akhirnya berada dalam kehendak Allah SWT.
Anak Saleh dan Salehah sebagai Penyejuk Hati
Anak merupakan anugerah sekaligus amanah dari Allah SWT. Kehadirannya dapat menjadi sumber kebahagiaan, tetapi pada saat yang sama juga menjadi ujian bagi orang tuanya. Ada orang tua yang diuji agar tetap bersyukur atas kebaikan anaknya, dan ada pula yang diuji agar terus bersabar menghadapi berbagai kesulitan dalam mendidiknya.
Anugerah terbesar bukan hanya ketika seseorang dikaruniai anak, melainkan ketika anak tersebut tumbuh menjadi pribadi yang beriman dan berakhlak baik. Anak seperti inilah yang disebut sebagai penyejuk hati bagi orang tuanya
وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (٧٤) أُو۟لَٰٓئِكَ يُجْزَوْنَ ٱلْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا۟ وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَٰمًا (٧٥) خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (٧٦)
قُرَّة أعين بِأَن نراهم مُؤمنين صالحين مُطِيعِينَ لَك، ووحد القرة لِأَنَّهَا مصدر وَأَصلهَا من الْبرد لِأَن الْعين تتأذى بِالْحرِّ وتستريح بالبر
Penjelasan Imam al-Aini menunjukkan bahwa penyejuk hati bukan hanya kesenangan yang bersifat sementara. Penyejuk hati adalah ketenteraman mendalam yang dirasakan orang tua ketika melihat anaknya tumbuh dalam keimanan, kesalehan, dan ketaatan kepada Allah SWT.
Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan orang saleh?
Imam an-Nawawi (w. 676 H) memberikan penjelasan yang ringkas tetapi mendalam dalam kitab Al-Majmu Syarh al-Muhadzdzab:
والصالحون جمع صالح قال أبو اسحق الزَّجَّاجُ وَصَاحِبُ الْمَطَالِعِ هُوَ الْقَائِمُ بِمَا عَلَيْهِ من حقوق الله تعالي وَحُقُوقِ عِبَادِهِ
Artinya, “Kata ‘ash-shalihun’ merupakan bentuk jamak dari kata saleh. Abu Ishaq az-Zajjaj dan penulis kitab Al-Mathali mengatakan bahwa orang saleh adalah orang yang menunaikan seluruh kewajibannya, baik yang berkaitan dengan hak-hak Allah SWT maupun hak-hak sesama hamba-Nya.” (Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, Al-Majmu Syarh al-Muhadzdzab, [Kairo: Idarah al-Thibaah al-Muniriyyah, 1344–1347 H], juz III, hlm. 458).
Dengan demikian, kesalehan tidak hanya diukur dari kerajinan seseorang dalam melaksanakan shalat atau membaca Al-Qur’an. Kesalehan juga terlihat dari kesungguhannya dalam menjaga hak orang lain, berbuat baik, bersikap jujur, serta menjalankan tanggung jawab sosial.
Doa Memohon Keturunan yang saleh dan salehah Hannah, istri Imran, pernah bernazar untuk mengabdikan anak yang berada dalam kandungannya sebagai pelayan Baitulmaqdis. Pada saat itu, ia berharap anaknya lahir sebagai laki-laki karena tugas pelayanan di tempat ibadah pada umumnya dilaksanakan oleh laki-laki.
Akan tetapi, Allah SWT menetapkan bahwa anak yang dilahirkannya adalah perempuan. Anak tersebut kemudian diberi nama Maryam. Dalam keadaan itu, Hannah tidak menolak ketetapan Allah SWT. Ia menerima kelahiran putrinya dengan penuh keikhlasan dan mendoakan agar Maryam beserta keturunannya dilindungi dari godaan setan.
Allah SWT mengabadikan doa tersebut dalam Surah Ali Imran ayat 36:
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّى وَضَعْتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلْأُنثَىٰ ۖ وَإِنِّى سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّىٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ
Artinya, “Maka ketika melahirkannya, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.’ Padahal Allah lebih mengetahui apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidaklah seperti perempuan. ‘Aku memberinya nama Maryam dan aku memohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari setan yang terkutuk.’” (QS. Ali Imran [3]: 36).
Bagian terakhir ayat tersebut memperlihatkan perhatian Hannah terhadap kehidupan rohani anaknya. Ia tidak hanya memikirkan kesehatan, keselamatan, atau masa depan duniawi Maryam, tetapi juga memohon agar putrinya dilindungi dari godaan setan dan tumbuh menjadi perempuan yang taat kepada Allah SWT.
Imam Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H) menjelaskan dalam kitab Mafatihul Ghaib:
ثُمَّ حَكَى اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا كَلَامًا ثَالِثًا وَهُوَ قَوْلُهَا وَإِنِّي أُعِيذُها بِكَ وَذُرِّيَّتَها مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ لَمَّا فَاتَهَا مَا كَانَتْ تُرِيدُ مِنْ أَنْ يَكُونَ رَجُلًا خَادِمًا لِلْمَسْجِدِ تَضَرَّعَتْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي أَنْ يَحْفَظَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، وَأَنْ يَجْعَلَهَا مِنَ الصَّالِحَاتِ الْقَانِتَاتِ
Artinya, “Kemudian Allah SWT menceritakan perkataan Hannah yang ketiga, yaitu ucapannya, ‘Sesungguhnya aku memohon perlindungan-Mu untuknya dan keturunannya dari setan yang terkutuk.’ Hal itu karena ketika ia tidak memperoleh apa yang sebelumnya diharapkan, yaitu seorang anak laki-laki yang akan menjadi pelayan masjid, ia bersungguh-sungguh memohon kepada Allah SWT agar menjaga Maryam dari setan yang terkutuk dan menjadikannya termasuk perempuan yang saleh dan taat.” (Abu Abdillah Muhammad bin Umar ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1420 H], juz 8, hlm. 204).
Penjelasan Imam ar-Razi memperlihatkan kedalaman iman Hannah. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapannya, ia tidak tenggelam dalam kekecewaan. Ia menerima ketetapan Allah SWT, kemudian mengarahkan doanya kepada sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu keselamatan iman dan kesalehan anaknya.
Sikap Hannah mengajarkan bahwa orang tua boleh mempunyai harapan tertentu terhadap anaknya. Namun, ketika Allah SWT menetapkan sesuatu yang berbeda, orang tua harus belajar menerima dan tetap berprasangka baik. Sebab, Allah SWT lebih mengetahui masa depan dan kebaikan yang tersimpan dalam diri seorang anak.
Maryam yang semula dipandang tidak sesuai dengan harapan untuk menjadi pelayan Baitulmaqdis justru tumbuh menjadi perempuan mulia. Ia dikenal sebagai perempuan yang suci, taat, dan dipilih oleh Allah SWT menjadi ibunda Nabi Isa alaihissalam.
Doa Hannah juga dikabulkan Allah SWT dengan cara yang istimewa. Ibnu Hajar al-Asqallani (w. 852 H) dalam Fathul Bari mengutip hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا وَالشَّيْطَانُ يَمَسُّهُ حِينَ يُولَدُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّ الشَّيْطَانِ إِيَّاهُ، إِلَّا مَرْيَمَ وَابْنَهَا، ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ: وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Artinya, “Tidak ada seorang bayi pun yang dilahirkan kecuali setan menyentuhnya ketika ia lahir. Karena sentuhan itu, bayi tersebut menangis keras, kecuali Maryam dan putranya. Kemudian Abu Hurairah berkata, ‘Bacalah jika kalian mau: Sesungguhnya aku memohon perlindungan-Mu untuknya dan keturunannya dari setan yang terkutuk.’”
Ibnu Hajar kemudian menjelaskan tanggapan Imam az-Zamakhsyari, penulis kitab Al-Kasysyaf, terhadap hadits tersebut:
وَقَدْ طَعَنَ صَاحِبُ الْكَشَّافِ فِي مَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ وَتَوَقَّفَ فِي صِحَّتِهِ فَقَالَ: إِنْ صَحَّ هَذَا الْحَدِيثُ فَمَعْنَاهُ أَنَّ كُلَّ مَوْلُودٍ يَطْمَعُ الشَّيْطَانُ فِي إِغْوَائِهِ إِلَّا مَرْيَمَ وَابْنَهَا فَإِنَّهُمَا كَانَا مَعْصُومَيْنِ
Artinya, “Penulis kitab Al-Kasysyaf mengkritik makna hadits ini dan tidak segera memberikan kepastian mengenai kesahihannya. Ia berkata, ‘Jika hadits ini sahih, maknanya adalah bahwa setan berambisi menyesatkan setiap bayi yang dilahirkan, kecuali Maryam dan putranya, karena keduanya dijaga oleh Allah SWT.’” (Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqallani, Fathul Bari bi Syarh al-Bukhari, [Mesir: Al-Maktabah al-Salafiyyah, 1380–1390 H], juz VIII, hlm. 212).
Hadits tersebut menunjukkan betapa besar pengaruh doa seorang ibu yang dipanjatkan dengan tulus. Allah SWT menerima doa Hannah dan memberikan perlindungan khusus kepada Maryam dan putranya, Nabi Isa alaihissalam.
Karena kandungan doanya yang sangat baik, para ulama juga menganjurkan agar bagian dari ayat tersebut dibacakan kepada bayi yang baru dilahirkan. Syekh Abu Bakr Utsman Syatha ad-Dimyathi (w. 1310 H) menjelaskan dalam kitab Ianatuth Thalibin:
وسن أن يحلق رأسه – ولو أنثى – في السابع، ويتصدق بزنته ذهبا، أو فضة، وأن يؤذن، ويقرأ سورة الاخلاص، وآية: (إني أعيذها بك وذريتها من الشيطان الرجيم) بتأنيث الضمير – ولو في الذكر – في أذنه
Artinya, “Dianjurkan mencukur rambut kepala bayi, baik laki-laki maupun perempuan, pada hari ketujuh, kemudian bersedekah dengan emas atau perak seberat rambutnya. Dianjurkan pula mengumandangkan azan, membaca Surah Al-Ikhlas, dan membacakan ayat,
‘Sesungguhnya aku memohon perlindungan-Mu untuknya dan keturunannya dari setan yang terkutuk,’ dengan tetap menggunakan kata ganti perempuan, meskipun bayi tersebut laki-laki, di telinganya.” (Abu Bakr Utsman bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi, Ianatuth Thalibin, [Beirut: Dar al-Fikr, 1418 H/1997 M], juz II, hlm. 384).
Kata ganti perempuan dalam bacaan tersebut tetap dipertahankan, meskipun dibacakan kepada bayi laki-laki, karena yang dibaca adalah bagian dari ayat Al-Qur’an sebagaimana susunan aslinya.
Dari kisah Hannah dan penjelasan para ulama di atas, setidaknya terdapat tiga pelajaran penting.
Pertama, mengharapkan anak yang saleh dan salehah merupakan cita-cita yang mulia. Namun, cita-cita tersebut harus disertai dengan kesabaran dalam mendidik, memberikan keteladanan, dan memenuhi kebutuhan rohani anak.
Kedua, kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah ritual. Orang saleh adalah orang yang menunaikan hak Allah SWT sekaligus menjaga hak-hak sesama manusia. Karena itu, orang tua tidak cukup hanya mengajarkan anak untuk rajin beribadah, tetapi juga harus mendidiknya agar jujur, bertanggung jawab, peduli, dan berakhlak baik.
Ketiga, doa Hannah mengajarkan cara menerima ketetapan Allah SWT. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, seorang mukmin tidak seharusnya tenggelam dalam kekecewaan. Ia tetap berdoa dan memohon agar apa pun yang telah ditetapkan Allah SWT menjadi jalan menuju kebaikan.
Orang tua tidak pernah mengetahui secara pasti seperti apa masa depan anaknya. Tugas mereka adalah berusaha memberikan pendidikan terbaik, menjaga dengan kasih sayang, menjadi teladan, dan terus mendoakannya. Sebab, doa yang dipanjatkan dengan tulus dapat menjadi salah satu jalan datangnya perlindungan dan pertolongan Allah SWT.
Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita keturunan yang beriman, saleh, berakhlak mulia, dan menjadi penyejuk hati bagi keluarga. Semoga kita juga diberikan kesabaran dan kekuatan untuk mendidik mereka dengan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam bisshawab.
Sumber: Ulasan artikel Keislaman NU


















