WARTAPAPER.COM-Salah satu bentuk kebebasan yang paling sulit diraih adalah kebebasan dari penilaian manusia. Banyak orang hidup bukan berdasarkan apa yang benar, tetapi berdasarkan apa yang akan dipuji. Mereka takut mengambil keputusan yang baik karena khawatir dicela, dan terkadang melakukan sesuatu yang salah hanya agar diterima oleh lingkungan. Akibatnya, kebahagiaan mereka selalu bergantung pada ucapan orang lain, sesuatu yang tidak pernah dapat mereka kendalikan.
Imam Al-Ghazali mengingatkan agar hati tidak terlalu bergembira ketika dipuji dan tidak terlalu hancur ketika dicela. Sebab pujian dan celaan manusia sering kali berubah mengikuti kepentingan, suasana hati, atau pengetahuan mereka yang terbatas. Hari ini seseorang dipuji setinggi langit, esok ia dicela tanpa ampun. Jika hati terus bergantung pada penilaian manusia, maka ketenangannya akan ikut naik turun bersama opini mereka.
Bukan berarti pujian selalu buruk atau celaan selalu salah. Pujian yang tulus dapat menjadi penyemangat, sedangkan kritik yang jujur dapat menjadi jalan untuk memperbaiki diri. Namun, seorang mukmin tidak menjadikan keduanya sebagai penentu nilai dirinya. Ia menerima nasihat dengan lapang dada, mensyukuri apresiasi tanpa menjadi sombong, lalu mengembalikan semua kebaikan kepada Allah yang telah memberinya kemampuan.
Islam mengajarkan bahwa yang paling penting bukanlah bagaimana manusia memandang kita, melainkan bagaimana Allah memandang kita. Ada orang yang dipuji oleh seluruh dunia tetapi amalnya kosong di sisi Allah. Ada pula orang yang tidak dikenal dan bahkan diremehkan manusia, tetapi memiliki kedudukan yang tinggi di sisi-Nya karena keikhlasan dan ketakwaannya.
Para sufi memandang bahwa kegembiraan yang berlebihan terhadap pujian adalah tanda bahwa hati masih mencari pengakuan manusia. Sebaliknya, kesedihan yang berlebihan karena celaan menunjukkan bahwa hati masih terlalu bergantung kepada penilaian mereka. Keikhlasan tumbuh ketika seseorang tetap melakukan kebaikan, baik dipuji maupun diabaikan, diterima maupun ditolak.
Nasihat ini juga menjadi pelajaran penting di era media sosial. Jumlah “suka”, komentar, dan pengikut sering dijadikan ukuran keberhasilan. Ketika unggahan dipuji, hati berbunga-bunga. Ketika dikritik, hati gelisah dan kehilangan semangat. Padahal, nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh algoritma atau opini publik. Jika tujuan hidup bergeser dari mencari rida Allah menjadi mencari validasi manusia, maka hati akan selalu haus dan tidak pernah merasa cukup.
Namun, Imam Al-Ghazali tidak mengajarkan kita untuk mengabaikan semua masukan. Yang perlu dihindari adalah menjadikan pujian sebagai sumber kesombongan dan menjadikan celaan sebagai alasan untuk berhenti berbuat baik. Jika pujian itu benar, bersyukurlah kepada Allah. Jika celaan itu benar, jadikan ia sebagai bahan muhasabah. Jika celaan itu tidak benar, bersabarlah dan serahkan urusanmu kepada Allah.
Pada akhirnya, manusia akan selalu memiliki pendapat yang berbeda tentang diri kita. Mustahil membuat semua orang senang, sebagaimana mustahil menghindari semua celaan. Maka jangan jadikan hati sebagai tempat keluar masuknya setiap pujian dan setiap hinaan.
Sebab hati yang paling tenang adalah hati yang tidak hidup untuk tepuk tangan manusia dan tidak runtuh oleh cemoohan mereka. Ia hidup untuk Allah semata. Ketika ridha-Nya menjadi tujuan utama, pujian tidak membuatnya tinggi hati, dan celaan tidak membuatnya kehilangan arah. Di situlah seorang hamba menemukan kemerdekaan yang sejati.
— Imam Al-Ghazali
Salah satu bentuk kebebasan yang paling sulit diraih adalah kebebasan dari penilaian manusia. Banyak orang hidup bukan berdasarkan apa yang benar, tetapi berdasarkan apa yang akan dipuji. Mereka takut mengambil keputusan yang baik karena khawatir dicela, dan terkadang melakukan sesuatu yang salah hanya agar diterima oleh lingkungan. Akibatnya, kebahagiaan mereka selalu bergantung pada ucapan orang lain, sesuatu yang tidak pernah dapat mereka kendalikan.
Imam Al-Ghazali mengingatkan agar hati tidak terlalu bergembira ketika dipuji dan tidak terlalu hancur ketika dicela. Sebab pujian dan celaan manusia sering kali berubah mengikuti kepentingan, suasana hati, atau pengetahuan mereka yang terbatas. Hari ini seseorang dipuji setinggi langit, esok ia dicela tanpa ampun. Jika hati terus bergantung pada penilaian manusia, maka ketenangannya akan ikut naik turun bersama opini mereka.
Bukan berarti pujian selalu buruk atau celaan selalu salah. Pujian yang tulus dapat menjadi penyemangat, sedangkan kritik yang jujur dapat menjadi jalan untuk memperbaiki diri. Namun, seorang mukmin tidak menjadikan keduanya sebagai penentu nilai dirinya. Ia menerima nasihat dengan lapang dada, mensyukuri apresiasi tanpa menjadi sombong, lalu mengembalikan semua kebaikan kepada Allah yang telah memberinya kemampuan.
Islam mengajarkan bahwa yang paling penting bukanlah bagaimana manusia memandang kita, melainkan bagaimana Allah memandang kita. Ada orang yang dipuji oleh seluruh dunia tetapi amalnya kosong di sisi Allah. Ada pula orang yang tidak dikenal dan bahkan diremehkan manusia, tetapi memiliki kedudukan yang tinggi di sisi-Nya karena keikhlasan dan ketakwaannya.
Para sufi memandang bahwa kegembiraan yang berlebihan terhadap pujian adalah tanda bahwa hati masih mencari pengakuan manusia. Sebaliknya, kesedihan yang berlebihan karena celaan menunjukkan bahwa hati masih terlalu bergantung kepada penilaian mereka. Keikhlasan tumbuh ketika seseorang tetap melakukan kebaikan, baik dipuji maupun diabaikan, diterima maupun ditolak.
Nasihat ini juga menjadi pelajaran penting di era media sosial. Jumlah “suka”, komentar, dan pengikut sering dijadikan ukuran keberhasilan. Ketika unggahan dipuji, hati berbunga-bunga. Ketika dikritik, hati gelisah dan kehilangan semangat. Padahal, nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh algoritma atau opini publik. Jika tujuan hidup bergeser dari mencari rida Allah menjadi mencari validasi manusia, maka hati akan selalu haus dan tidak pernah merasa cukup.
Namun, Imam Al-Ghazali tidak mengajarkan kita untuk mengabaikan semua masukan. Yang perlu dihindari adalah menjadikan pujian sebagai sumber kesombongan dan menjadikan celaan sebagai alasan untuk berhenti berbuat baik. Jika pujian itu benar, bersyukurlah kepada Allah. Jika celaan itu benar, jadikan ia sebagai bahan muhasabah. Jika celaan itu tidak benar, bersabarlah dan serahkan urusanmu kepada Allah.
Pada akhirnya, manusia akan selalu memiliki pendapat yang berbeda tentang diri kita. Mustahil membuat semua orang senang, sebagaimana mustahil menghindari semua celaan. Maka jangan jadikan hati sebagai tempat keluar masuknya setiap pujian dan setiap hinaan.
Sebab hati yang paling tenang adalah hati yang tidak hidup untuk tepuk tangan manusia dan tidak runtuh oleh cemoohan mereka. Ia hidup untuk Allah semata. Ketika ridha-Nya menjadi tujuan utama, pujian tidak membuatnya tinggi hati, dan celaan tidak membuatnya kehilangan arah. Di situlah seorang hamba menemukan kemerdekaan yang sejati.
Editor: John Panjaitan/WP


















