banner 728x250

Di Balik Program Pangan Nasional, Petani masih Bergulat dengan Harga dan Pupuk,Garda 08 Minta Evaluasi Menyeluruh

banner 120x600
banner 468x60

 

 SOPPENG|WARTAPAPER.COM – Ketahanan pangan terus digaungkan sebagai agenda strategis bangsa. Berbagai program digulirkan, target produksi ditingkatkan, dan cadangan pangan diperkuat. Namun di balik narasi keberhasilan tersebut, realitas di lapangan memperlihatkan wajah yang berbeda. Ribuan petani masih bergulat dengan persoalan klasik yang seolah tak kunjung usai: fluktuasi harga hasil panen yang tak menentu dan kerumitan distribusi pupuk bersubsidi.

banner 325x300

Di atas kertas, kebijakan yang dijalankan sejalan dengan upaya menjaga kedaulatan pangan. Namun bagi para petani, tantangan yang dihadapi justru semakin berat. Biaya produksi terus merangkak naik, sementara pendapatan seringkali tidak sebanding dengan keringat dan risiko yang ditanggung.

Merespons kondisi tersebut, Founder DPP LSM GARDA 08 menilai bahwa keberhasilan sektor pertanian tidak boleh hanya diukur dari angka statistik atau luas lahan tanam semata. Ukuran sesungguhnya terletak pada satu hal: Apakah kehidupan petani benar-benar menjadi lebih sejahtera?

Petani adalah ujung tombak yang menopang ketahanan pangan nasional. Karena itu, kesejahteraan mereka harus menjadi indikator utama. Jika di lapangan masih ada keluhan yang mendalam, itu adalah sinyal bahwa sistem masih perlu diperbaiki dan dievaluasi secara serius,” ujarnya.

Terjepit Antara Harga yang Turun dan Biaya yang Naik

Salah satu persoalan paling mendasar yang disoroti adalah ketidakstabilan harga komoditas.

Saat panen raya tiba dan produksi melimpah, harga di tingkat petani justru sering anjlok. Keuntungan yang didapat menjadi sangat tipis, bahkan tak jarang hanya cukup untuk menutupi modal tanam.

Di sisi lain, beban biaya produksi terus bertambah. Mulai dari harga benih, pestisida, hingga upah tenaga kerja, semuanya mengalami kenaikan.

Petani bekerja dengan risiko yang sangat besar: cuaca yang tidak menentu, serangan hama, hingga pasar yang sulit diprediksi. Sangat tidak adil jika di akhir masa tanam, mereka justru tidak mendapatkan harga yang layak,” tegasnya.

GARDA 08 menekankan, perlindungan harga bukan sekadar soal ekonomi, melainkan soal keadilan bagi mereka yang bekerja keras menyambung nyawa pangan bangsa.

Distribusi Pupuk: Janji yang Belum Penuh Pasti

Selain masalah harga, persoalan pupuk bersubsidi masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Meski setiap tahun anggaran besar dialokasikan oleh negara, keluhan mengenai keterlambatan, kelangkaan stok, hingga distribusi yang tidak tepat waktu masih sering terdengar di berbagai desa.

Padahal, pupuk adalah nyawa bagi pertanian. Ketersediaan yang tepat waktu sangat menentukan keberhasilan panen.

Pupuk bersubsidi adalah hak petani. Distribusinya harus transparan, pasti, dan benar-benar sampai ke tangan yang berhak. Jangan sampai program bantuan ini justru menjadi sumber keresahan baru bagi petani,” tambahnya.

Menurutnya, setiap daerah memiliki karakteristik dan kendala yang berbeda. Oleh karena itu, solusi tidak bisa hanya seragam di atas kertas, tetapi harus adaptif dengan kondisi riil di lapangan.

Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Satu Paket

LSM GARDA 08 berpandangan bahwa ketahanan pangan yang kuat tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan petani.

Produksi yang tinggi akan sulit dipertahankan jika petani terus-menerus berada dalam tekanan ekonomi. Sektor pertanian harus menjadi ladang yang menjanjikan masa depan, bukan tempat yang penuh ketidakpastian.

Ketahanan pangan akan kokoh jika petani juga merasa aman dan sejahtera. Produksi besar harus diimbangi dengan pendapatan yang memadai, agar generasi muda pun mau meneruskan usaha ini,” ujarnya.

Mendesak Evaluasi dan Perbaikan

Atas dasar itu, GARDA 08 mendorong pemerintah pusat maupun daerah untuk tidak berpuas diri. Evaluasi menyeluruh perlu dilakukan terhadap mekanisme pasar, stabilisasi harga, hingga sistem penyaluran sarana produksi.

Kritik dan keluhan yang muncul bukanlah bentuk penolakan terhadap pembangunan, melainkan masukan konstruktif agar kebijakan yang dijalankan benar-benar berpihak kepada rakyat kecil.

Pemerintah yang baik adalah pemerintah yang mau mendengar dan berani memperbaiki apa yang belum benar. Selama nasib petani belum terbela, maka agenda ketahanan pangan belum bisa dikatakan berhasil sepenuhnya,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah terus menjalankan program di sektor pertanian. Namun harapan besar kini tertuju pada adanya langkah nyata yang lebih adaptif dan solutif demi melindungi nasib para petani.

Redaksi senantiasa membuka ruang hak jawab dan tanggapan dari seluruh pihak terkait demi menjaga prinsip pemberitaan yang akurat, berimbang, dan objektif. (Red/WP)

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *