banner 325x300

ACEH|WARTAPAPER/COm-Kalau candi Borobudur adalah arsip batu, maka deretan Tamarindus indica di Sumatera Utara dan Aceh adalah arsip hidup. Mereka saksi bisu bagaimana pemerintah Hindia Belanda menanam bukan untuk 5 tahun, tapi untuk 2 abad ke depan.

Sejarah penanaman massal 1870-1930 bukan kebetulan. Arsip KITLV Leiden mencatat Departemen Burgerlijke Openbare Werken BOW punya “lijst van geschikte bomen” sampai daftar pohon ideal untuk tropis. Asam Jawa masuk 3 besar, sejajar mahoni dan tanjung.

Nyatanya “Belanda butuh pohon yang tidak merepotkan administrasi,” kata Dr. Hans van der Veen, sejarawan botani KITLV dalam wawancara 2026 kepada awak media.

Empat alasan ilmiah kenapa dipilih

Pertama, AC Alami untuk Jalan Kereta Kuda, Medan-Banda Aceh dulu ditempuh 7 hari pakai kereta kuda. Suhu aspal bisa 55°C. Kanopi asam Jawa lewat transpirasi menurunkan suhu permukaan 5-8°C. Daunnya pinnate kecil-kecil: rimbun tapi tembus cahaya. Jalan tetap terang, aman jalan malam. Flamboyan cantik, tapi tidak membikin jalan gelap berakar timbul.

Kedua, Akar “Anti-Gagal Proyek” 1920-an, BOW mulai pasang pipa air besi, kabel telegraf bawah tanah. Trembesi dengan akar lateralnya jadi mimpi buruk. Solusi Belanda: taproot asam Jawa. Akar tunggang lurus ke bawah 2-3 meter. Dokumen BOW 1914 menulis “wortel die niet stoort”  sampai keakar yang tidak mengganggu. Efisien untuk ribuan km jalan protokol.

Ketiga, Satu Pohon Tiga Cuan. Buah asam diekspor ke Eropa jadi bahan makanan diolah menjadi obat. Daun muda asem olandese jadi bumbu wajib masakan Aceh-Melayu sampai sekarang. Kayu saga yang keras dipakai untuk wheel hubs kereta kuda. Ini ekonomi sirkular sebelum istilah itu ada.

Keempat,  Tahan Banting Ala Sumatera, Asam Jawa kebal garam, tahan kering 6 bulan, tumbuh di tanah laterit miskin hara pinggir jalan. Umur ekonomis 200 tahun. Bandingkan: flamboyan hanya umur 40 tahun udah lapuk.

Pasca 1990, 70% populasi hilang karena pelebaran jalan. Yang bertahan jadi monumen hidup:  12 pohon di Jl. Sudirman depan Kantor Pos Medan. 8 pohon di Kawasan Polonia. Jalur Kuala Simpang-Karang Baru, Aceh Tamiang – ada pohon yang di tanam 1898 yang masih berbuah tiap tahun. Di Banda Aceh, 5 pohon di Jl. Teuku Umar jadi penanda “Kota Lama”.

“Nenek saya rebus daun asam untuk turunkan demam. Ternyata beneran ada ilmunya,” kata Nurlaila, 34, warga Lhokseumawe.

Riset UGM 2022 dan UI 2019 membuktikan: serat 5g/100g sama dengan 2 kali apel untuk pencernaan. Asam tartarat, polifenol hambat penyerapan gula, bantu DM tipe 2. Kaliumnya tinggi untuk tekanan darah. Flavonoid di daun anti-inflamasi untuk nyeri haid.

Pelajaran untuk masa depan

“Belanda menanam untuk cucu cicitnya. Kita sering menanam untuk laporan 5 tahun,” ujar Pak Samsul, 67, juru pelihara pohon di Medan sejak 1983.

Pohon asam ngajarin 3 hal ke kota modern: 1. Pilih spesies lokal, jangan ikut tren.

2. Pikirkan akar, bukan cuma kanopi Instagramable.

3. Hitung manfaat ganda: ekologi, ekonomi dan kesehatan.

Dengan melestarikan 1 pohon asam tua sama dengan menyelamatkan 200 tahun sejarah, produksi oksigen 260 kg/tahun, rumah untuk 15 spesies burung.

Pertanyaannya sekarang: kita mau jadi generasi yang menebang, atau generasi yang melanjutkan tanam. (Red/WP)