

Foto:Christian Dior & Hermès: Butik ikonik Dior di Jalan Rue Saint-Honoré hancur tak bertekstur akibat aksi vandalisme dan penjarahan. Kaca-kaca pecah dan barang-barang bernilai fantastis disapu bersih massa.
Berita International
MANCA NEGARA|WARTAPAPER.COM-Amarah rakyat Prancis terhadap penguasa oligarki akhirnya meledak tak terbendung. Aksi demonstrasi berskala nasional memprotes biaya hidup yang kian mencekik rakyat serta kegagalan pemerintah menyediakan lapangan kerja berubah menjadi kerusuhan hebat. Penjarahan dan pembakaran dilakukan sekelompok massa secara massif disana sini.
Simbol-simbol kemewahan dan kekuasaan menjadi sasaran utama kemarahan massa. Rumah mode kelas atas dunia yang berdiri megah di kawasan elite Rue Saint-Honoré, Paris—pusat busana mewah dunia—porak-poranda dihantam aksi vandalisme dan penjarahan massal pada Sabtu (17/10/2026).
Aksi anarkis menyasar butik-butik fesyen ternama yang selama ini menjadi lambang kesenjangan ekonomi:
Christian Dior & Hermès: Butik ikonik Dior di Jalan Rue Saint-Honoré hancur tak bertekstur akibat aksi vandalisme dan penjarahan. Kaca-kaca pecah dan barang-barang bernilai fantastis disapu bersih massa.
Versace & Chanel: Sehari pasca-unjuk rasa nasional, butik Versace dan Chanel tampak rusak parah dengan dinding-dinding penuh grafiti bernada amarah serta interior yang hancur lebur.
Gedung Pemerintahan Dibakar, Kota-Kota Utama Membara
Limoges: Gedung Balai Kota dibakar hingga menyalakan kobaran api besar.
Marseille: Demonstran menerobos masuk ke Balai Kota dan mengotori seluruh bangunan dengan grafiti anarkis.
Paris: Polisi terdesak dan terpaksa menembakkan gas air mata saat mundur menghadapi gempuran massa yang membara.
Ribuan Orang Ditangkap, 150 Polisi Luka-Luka
Aksi besar-besaran ini merupakan bagian dari mobilisasi nasional yang menyatukan berbagai elemen masyarakat—mulai dari mantan aktivis Rompi Kuning (Yellow Vests), siswa sekolah menengah, mahasiswa, aktivis iklim, hingga para petani.
“Sebanyak 1.200 orang telah ditangkap dan 150 petugas polisi mengalami luka-luka akibat bentrokan intens, penjarahan massal, serta pembakaran yang melanda wilayah Prancis,” tegas Perdana Menteri Prancis, Sébastien Lecornu, dalam pernyataan kepada media.

















