
BANGKA BELITUNG|WARTAPAPER.COM – Semangat mengabdi tak mengenal jeda. Baru saja melangkah pulang dari ajang Jambore Nasional (Jamnas) 2026, Amsyar santri sekaligus Ketua OSIM MTs Bahrul Ulum Islamic Centre Sungailiat tak lupa kembali ke tempat pertamanya menimba ilmu. Memanfaatkan waktu izin sehari, ia menyambangi almamaternya, SD STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung. Di sana, sang juara tak datang dengan kemegahan, melainkan membawa inspirasi: menggelar sesi bedah buku sekaligus menanamkan semangat literasi kepada adik-adik kelasnya.
Dua Gelar Prestisius, Dua Karya Tangan Sendiri
Kunjungan ini menjadi tugas perdana Amsyar di bulan pertamanya menjabat sebagai Runner Up 3 Duta Literasi Remaja Indonesia 2026. Tak hanya itu, di tahun yang sama ia juga menyabet gelar Duta Dongeng CBP BI Babel 2026. Dua buku karyanya sendiri Melodi Perjalanan Kecil dan KELEKA (KELak kEK ikAK) menjadi jendela utama yang dibukanya lewat sesi bedah karya tersebut, mengajak para murid memahami betapa indahnya dunia tulis-menulis.
Di hadapan para murid dan guru, Amsyar membagikan proses kreatif di balik setiap halaman yang ditulisnya, sekaligus menyalurkan motivasi agar generasi muda tak segan berkarya. Sebagai alumni, ia mengaku merasa memiliki kewajiban dan tanggung jawab moral untuk kembali berbagi apa yang telah ia petik, di tempat yang dulu menanamkan benih ilmunya.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh Ramanda dan Bunda Guru, serta Ustaz dan Ustadzah, baik di SD STKIP Muhammadiyah maupun di MTs Bahrul Ulum. Tak lupa, rasa terima kasih yang mendalam juga saya haturkan atas dorongan, doa, dan dukungan tanpa henti dari orang tua serta keluarga besar saya. Berkat fondasi dari keluarga dan didikan para guru, saya terus bisa belajar dan berkarya hingga di titik ini,” ujar Amsyar tulus.
Perjalanan pendidikan Amsyar memang tak lepas dari lingkungan yang membentuk kepribadiannya. Masa sekolah dasarnya ditempuh dengan penuh kedisiplinan, dan kini di tahun ketiga di MTs Bahrul Ulum, ia menimba ilmu di lingkungan pesantren berasrama jauh dari orang tua raga, namun tak pernah jauh dari doa dan kasih sayang mereka.
“Hampir 60 hingga 70 persen waktu harian saya dari kecil hingga remaja dihabiskan di lingkungan sekolah. Meski jauh dari rumah, restu dan dukungan keluarga selalu menjadi penguat utama saya. Di sisi lain, Ramanda, Bunda Guru, Ustaz, dan Ustadzah di sekolah dan pesantren bukan hanya mengajar materi pelajaran, tetapi betul-betul menjadi orang tua kedua yang membimbing serta membentuk kepribadian saya,” tambahnya dengan mata berbinar.
Kunjungan singkat namun penuh kesan itu ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang hangat bersama para murid. Aksi nyata Amsyar sebagai Ketua OSIM, anggota Pramuka yang aktif, penulis dua buku, serta pemegang dua gelar prestisius literasi membuktikan satu kebenaran sederhana namun kuat: kesibukan sebagai santri tidak membatasi semangat untuk terus berkarya, berprestasi, dan kembali berbakti kepada almamater serta masyarakat.
Semoga jejak langkah Amsyar menjadi inspirasi abadi: bahwa tingginya ilmu seseorang, patut diukur dari seberapa sering ia kembali menabur benih kebaikan di tempat ia pertama kali dididik.
(John Panjaitan/WP)
Dua Gelar Prestisius, Dua Karya Tangan Sendiri
Kunjungan ini menjadi tugas perdana Amsyar di bulan pertamanya menjabat sebagai Runner Up 3 Duta Literasi Remaja Indonesia 2026. Tak hanya itu, di tahun yang sama ia juga menyabet gelar Duta Dongeng CBP BI Babel 2026. Dua buku karyanya sendiri Melodi Perjalanan Kecil dan KELEKA (KELak kEK ikAK) menjadi jendela utama yang dibukanya lewat sesi bedah karya tersebut, mengajak para murid memahami betapa indahnya dunia tulis-menulis.
Di hadapan para murid dan guru, Amsyar membagikan proses kreatif di balik setiap halaman yang ditulisnya, sekaligus menyalurkan motivasi agar generasi muda tak segan berkarya. Sebagai alumni, ia mengaku merasa memiliki kewajiban dan tanggung jawab moral untuk kembali berbagi apa yang telah ia petik, di tempat yang dulu menanamkan benih ilmunya.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh Ramanda dan Bunda Guru, serta Ustaz dan Ustadzah, baik di SD STKIP Muhammadiyah maupun di MTs Bahrul Ulum. Tak lupa, rasa terima kasih yang mendalam juga saya haturkan atas dorongan, doa, dan dukungan tanpa henti dari orang tua serta keluarga besar saya. Berkat fondasi dari keluarga dan didikan para guru, saya terus bisa belajar dan berkarya hingga di titik ini,” ujar Amsyar tulus.
Perjalanan pendidikan Amsyar memang tak lepas dari lingkungan yang membentuk kepribadiannya. Masa sekolah dasarnya ditempuh dengan penuh kedisiplinan, dan kini di tahun ketiga di MTs Bahrul Ulum, ia menimba ilmu di lingkungan pesantren berasrama jauh dari orang tua raga, namun tak pernah jauh dari doa dan kasih sayang mereka.
“Hampir 60 hingga 70 persen waktu harian saya dari kecil hingga remaja dihabiskan di lingkungan sekolah. Meski jauh dari rumah, restu dan dukungan keluarga selalu menjadi penguat utama saya. Di sisi lain, Ramanda, Bunda Guru, Ustaz, dan Ustadzah di sekolah dan pesantren bukan hanya mengajar materi pelajaran, tetapi betul-betul menjadi orang tua kedua yang membimbing serta membentuk kepribadian saya,” tambahnya dengan mata berbinar.
Kunjungan singkat namun penuh kesan itu ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang hangat bersama para murid. Aksi nyata Amsyar sebagai Ketua OSIM, anggota Pramuka yang aktif, penulis dua buku, serta pemegang dua gelar prestisius literasi membuktikan satu kebenaran sederhana namun kuat: kesibukan sebagai santri tidak membatasi semangat untuk terus berkarya, berprestasi, dan kembali berbakti kepada almamater serta masyarakat.
Semoga jejak langkah Amsyar menjadi inspirasi abadi: bahwa tingginya ilmu seseorang, patut diukur dari seberapa sering ia kembali menabur benih kebaikan di tempat ia pertama kali dididik.
(John Panjaitan/WP)





