Berita Nasional JAKARTA|WARTAPAPER.COM — PT Freeport-McMoRan Inc, produsen tembaga terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar, tengah mengembangkan teknologi berbasis senyawa kimia baru untuk mengekstraksi tembaga dari tumpukan batuan sisa tambang yang sebelumnya dianggap tidak bernilai ekonomis.
Inovasi ini menjadi strategi utama perusahaan guna mencapai target produksi 800 juta pon tembaga per tahun pada tahun 2030, di tengah terus meningkatnya permintaan tembaga global.
Tailing atau limbah tambang yang terakumulasi tersebut diperkirakan masih menyimpan cadangan lebih dari 40 miliar pon tembaga yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Kathleen Quirk, Chief Executive Officer Freeport-McMoRan, menjelaskan bahwa perusahaan telah menghabiskan tiga tahun terakhir untuk menguji berbagai kombinasi bahan kimia. (19/10/26)
Hasilnya, ditemukan senyawa baru yang berpotensi meningkatkan tingkat pemulihan tembaga setidaknya tiga kali lipat apabila dikombinasikan dengan pemanasan.
Pengujian lapangan dijadwalkan dimulai pada akhir tahun 2026 ini, dan gambaran yang lebih jelas mengenai efektivitas serta jadwal penerapan komersial diperkirakan akan terlihat sepanjang tahun 2027.
“Fokus kami adalah memanfaatkan teknologi dan inovasi untuk mendapatkan lebih banyak tembaga dari aset yang sudah kami miliki,” ujar Quirk menjelang konferensi LME Week di London.
Teknologi pelindian atau leaching ini menawarkan sejumlah keunggulan dibandingkan penambangan konvensional.
Biaya operasionalnya diperkirakan sepertiga lebih murah, tidak memerlukan izin penambangan baru, serta tidak membutuhkan pembangunan fasilitas peleburan tambahan.
Meski demikian, saat ini baru sekitar 30% dari target ekstraksi dapat dipenuhi melalui metode ini, dengan produksi tahun lalu mencapai 214 juta pon tembaga.
Quirk mengakui bahwa Wall Street masih bersikap skeptis hingga teknologi ini benar-benar terbukti mampu mendongkrak angka produksi secara signifikan.
Di Indonesia, Freeport menargetkan pemulihan penuh produksi tambang Grasberg pada akhir tahun 2027, pasca terganggunya operasi akibat insiden aliran lumpur tahun lalu yang menewaskan tujuh pekerja.
Perusahaan juga telah menghentikan penjualan konsentrat tembaga ke China, karena dua smelter milik perusahaan di Indonesia dinilai sudah memiliki kapasitas yang cukup untuk mengolah seluruh pasokan dari tambang Grasberg.
Terkait rencana kebijakan tarif impor tembaga di Amerika Serikat, Quirk menyatakan masih menunggu kejelasan pemerintah AS, namun menegaskan ketidakpastian tersebut tidak mengubah rencana investasi jangka panjang perusahaan.
(Redaksi/WP)
Foto :Freeport.


















